Showing posts with label igauan. Show all posts
Showing posts with label igauan. Show all posts

Tuesday, January 29, 2008

Kawan Purwana


Mengenang Seorang Hilang: Purwana A. Syaputra

Sudah lama aku ingin menulis ini. entah kenapa aku selalu gagal menuliskannya. Bukan apa-apa sebenarnya, kadang rasa malas dan sesuatu yang lain membuatku menunda ini semua. Tak apa.
***
“Bagaimana perkawinan di tempatmu. Samakah dengan kasus Situ Nurbaya?” Begitu dia bertanya ketika kami pertama bertemu. Pertemuanku yang pertama dengannya, kunjunganku yang pertama pula ke Kutub, markasnya, pertama kali pula aku mengenal namanya: Purwana.

Kurasa aku tak harus menjawab itu. aku lebih sibuk memperhatikannya. Ia menggunakan kacamata yang lumayan tebal, penampilannya serius untuk orang seukurannya. Masih muda tentu saja. Di tangannya (tepatnya di pangkuannya) terdapat banyak buku yang antri minta dibaca. Ditenteng kemana saja.

Dia senang mengenal orang baru, cepat akrab dan blak-blakan, itu yanga ku tangkap darinya mula-mula. Pertemuan pertama itu telah diisi oleh obrolan kami yang sesekali dilarikannya ke topik serius. Sepertinya ia penyuka kebudayaan. Lalu dituturkannya, di tempat dia, Riau sana, orang-orang banyak menggunakan bahasaku. Bahasa Minang. Dia juga bisa, katanya. Dibuktikan dengan pertemuan kami berikut-berikutnya dia sering mengucapkan satu-dua patah bahasa kampungku.

Lalu kami cepat akrab. Mahwi (air Tawar) yang semula mengenalkan aku padanya, pemuda bernama Purwana ini dan Kutub khususnya. Di sana ada Gugun Al Ghuyonni (benar gak nih?), Ahmadun A.S, Anam Khairul Anam, Profesor, Ridwan dan lain-lain. hubunganku dengan Purwana semakin akrab. Ia orang yang suka menemani setiap langkah. Sejak itu di mana ada aku, Mahwi dan Muchlish, sepertinya Purwana juga ada. lalu kamis ering berkunjung ke kos Mahwi yang berada di dekat ring road Selatan. Ramai juga. dan Purwana mulai bercerita soal novelnya yang sedang dan akan digarap.

Begitulah, sesuai pergerakanw aktu kami ‘menggelandang ke Selatan’ ada Ibed di sana, ada Haris pula, ada Iming alias Muslimin. Buka angkringan sampai ia pindah ke Utara dan tak lama aku pun menyusulnya. Kuliah di kampus UIN.
***
Aku tak ingin menulis banyak hal. Aku hanya diserang kehilangan. Purwana yang suatu ketika menghilang dari kami, kawan-kawan Poetika yang sering dirisaukannya. Dia sering bercerita soal kegamangan, kekawatiran dan sebagainya pada Poetika dan kami khususnya. Dia tak salah juga, terbukti kami sempat ‘renggang’ dan melakukan kerja sendiri-sendiri. tetapi Purwana tak muncul-muncul. Juga di koan-koran.

Purwana Saputra namanya, Purwana A. Syaputra tepatnya. Tetapi dia juga enulis namanya dnegan Wanadi Wana Putra, Wanahadi dan sebagainya. Dari kabar yang kudengar dia masih berada di Yogya dan daerah yangs ama. Tapi betapa gagapnya akud an kawan-kawans etiap kali hendak melacak. Aku tak tahu, dia saedang bersembunyi, menghindari diri atau memang tak mau bertemun kami. Tetapi kami, kawan-kawannya tentu masih berharap dia menampakkan wajah dan menyapa kami seperti biasa, “Ye.. gimana, gimana…”

Kadang kami berfikir, suatu waktu kami bertemu dia saat karyanya sednag bicarakan orang, entah esai atau novelnya. Barangkali dalam pertapaannya ini dia sedang menggarap sebuah mahakarya dasyat di mana kami kelak hanya bisa menelan liur saja.

Dia menghilang, itu yang aku tahu. Buku-bukunya masih ada di kamarku, ak dans egala pemberiannya masih kuisimpan dnegan baik. Suatu waktu, aku yakin itu, dia akan datang lagi dan bercakap banyak peristiwa.

Kehilangannya, adalah kehilangan seorang kawan. Dan ak perlu mengenangnya.

Wednesday, January 23, 2008

Catatan Pulang Kampung

Berapa Nomor Handhphonmu?

Tiga tahun enam bulan kemudian aku menuju pulang. Sungguh, aku merasa cemas. Apa yang kira-kira akan aku lakukan di kampung sepanjang kepulanganku ini? masihkah aku bisa melanjutkan obrolan di lapau kopi, mengulang peristiwa lampau, saat di mana aku masih bagian dari struktur masyarakat yang ada. Mempercakapkan lagi soal jenis motor terbaru, mengenal perempuan yang lewat sepanjang sore di depan rumah undo —markas kami, para anak muda? Masihkan aku bisa mengikuti percakapan verbal seputar orgen tunggal, gadis kampung tetangga yang menjadi pujaan hati para bujang, berisik cinta remaja dan mengingat peristiwa-peristiwa kecil lainnya? Kupikir waktu tidak pernah diam, kaku dan monoton. Sepanjang waktu ada saja peristiwa baru yang diciptakan.

Aku tahu, sebagian kawan-kawan seusia, maupun yang lebih tua, sudah menikah dan memiliki anak. Sebagian yang lain, para tetua kampung dan orang tua, sesepuh, sudah lebih dulu berkubur tanah. Apakah masih bisa aku bercakap perasaian dan peruntungan dengan mereka? Apakah aku masih akan sok tahu soal kisaran angin, laut yang mulai bergelombang besar, ramalan tentang gempa bumi dan laut pasang. Ataukah aku akan membincangkan dengan soal kapal dan perahu, biduk dan boat, ikan dan hasil laut? Atau soal perjalanan menegangkan mengadu nasib di Malaysia?

Perihal-perihal kecil dan sederhana sebenarnya. Tapi sungguh, ini membuat tubuhku menggigil juga. anak-anak beringsut tumbuh, yang kecil beranjak besar, yang remaja menuju masa yang lebih serius. Mereka yang dulu masih kanak, kelak akan berubah jadi pemuda gagah dan bisa jadi aku akan terbata menyebut nama mereka. Bukankah sepanjang tahun-tahun keberangkatanku, tak banyak kabar yang bisa kudapati soal kampung? Ini bukan tanah seberang, Malaysia, yang sepanjang hari, sepanjang minggu akan ada saja satu dua kawan yang datang dan pergi. Menjadi imigran gelap dan pulang kampung. Tentu mereka lebih beruntung, setidaknya mereka yang ada di Malaysia itu, akan selalu mendapat kabar baru dan tak sungguh-sungguh alpa dengan peristiwa apa pun juga. bahkan hal-hal remeh sekali pun.

Sebelum aku pergi, kampungku sudah bertahun-tahun menikmati cahaya listrik, setiap rumah nyaris memiliki tivi dan parabola. Lama kemudian mereka mulai memiliki digital, menggantikan parabola. Anak-anak muda menghafal lagu-lagu populer Indonesia dari VCD bajakan sefasih mereka mempercakapkan artis dan bintang sinetron. Generasi di bawahku tak lagi mengenal main kajai, main kelereng, main batun, main galah, main genggong dan sejenisnya. Mereka sudah mengenal play station. Lihat, di kampungku yang tersuruk di sepanjang Pesisir pantai Selatan Kota Padang, empat jam perjalanan dari pusat kota, mengetahui tiap inci perihal menghebohkan di luar sana. Mereka juga memodifikasi motor mereka, anak perempuan dan laki-laki mengikuti trend berpakaian, memakai farfum ala artis yang dijajakan di ruang tamu rumah mereka.

Jika kini aku pulang bukankah semakin banyak yang sudah berubah? Aku sudah lama tak mengirim surat ke kampung, barangkali aku lupa cara menuliskannya. Beberapa kali aku lebih sering berkomunikasi lewat handphond, pesan-pesan singkat yang tak terlalu masuk ke hal-hal yang sederhana.

Kupikir kampungku dengan budayanya yang manis dan ranum itu sudah lama bergeser. Kukira sejak kabel-kabel hitam itu melingkar jauh dari entah kampung mana menuju kampung mana pula. Kami, aku dan kawan-kawan seangkatan masih ingat, ketika tiang-tiang beton itu mulai berdiri di halaman rumah, peristiwa baru akan segera dimuali. Benar saja. Tak lama, kami tidak lagi menggunakan suluh atau obor sebagai penerang jalan ketika pulang mengaji. Cahaya listrik yang berkilau di setiap tiang cukup menerangkan jalan dan halaman rumah. Kami mulai meninggalkan permainan sederhana menjelang kantuk datang; bermain batun, main petak umpet atau kejar-kejaran di antara cahaya langit dan lampu minyak.

Sepanjang malam kami mulai ritual baru sehabis mengaji. Berjalan beberapa kilo ke Selatan untuk melihat aksi Yoko di film seri mandarin Return of The Condor Heroes. Saya mulai mengikuti seri-seri aksi Andi Lau yang memiliki sebelah tangan dan kisah cintanya yang rumit. Sepanjang jalan pulang kami akan menyanyikan thema song serial tersebut, sesekali menghapal jingle iklan-iklan yang ditayangkan. Serasa kami tidak jauh beda dengan anak-anak kota. Kami mengingat bermacam merk makanan ringan dan minuman. Mengetahui jenis bumbu dapur, mie instan mana yang lebih keren ketika dibeli.

Minggu adalah hari pasar. Jika waktu-waktu belakangan aku bisa melihat aksi Jason, Kimberly dan Jack dalam pertarungan mereka melawan Repulsa di salah satu rumah di tengah pasar. Tokoh-tokoh Power Rangers ini sudah kuhafal betul dari majalah Bobo bekas yang kubeli nyaris setiap minggu. Sekarang aku bisa menontonnya. Aih, rancak bana.

Biasanya di pasar kami akan melihat dan menemukan banyak makanan instan yang kami lihat di televisi. Memakannya, dengan gaya yang nyaris sama dengan apa yang dilakukan penjaja makanan di ruang tamu itu. Maka, untuk sebuah eksistensi, kami sering menyimpan bungkus makanan yang diiklankan dan membawanya ke sekolah untuk dipamerkan pada kawan-kawa. Biasanya akan ada saja yang bertanya, “enak tidak?” tentu ada yang dengan sinis meresponnya, sebentuk rasa iri, tentu saja.

Tetapi itu belasan tahun lalu. Dan waktu berpusing dnegan cepat. Aku tak pernah sanggup mengimbanginya.
***
Dari Yogya saya sudah menyiapkan kartu Telkomsel, sebentuk kekhawatiran kalau-kalau nanti di sana tak akan ada sinyal xl. Mengingat, baru beberapa kota-kota besar saja yang dilewati jaringan seluler itu. nitimbang yang lain, jelas Telkomsel memiliki jaringan hampir di tiap kecamatan provinsi. Setidaknya di kotak.

Aku mulai merasakan ada yang berubah sejak dari kota. Bukan hanya soal harga pulsa yang lebih besar 20% dibanding Yogya, tetapi untuk makan pun aku merasa agak aneh. Bayangkan, di Yogya untuk makan dengan daging, 5000 saja sudah cukup. Itu di rumah makan Padang. Tetapi di rahim sendiri, aku harus mengeluarkan uang 7000 untuk makan ikan laut.

Sepanjang jalan pulang aku mulai diliputi rasa khawatir, apa yang akan kulakukan sesampai di rumah? bagaimana respon keluarga besar dan kawan-kawan? Aku membandingkan kepulanganku dengan kawan-kawa yang lain, yang berangkat ke Malaysia. Tiap kali mereka pulang kampung akan ada saja ‘pesta’, sekedar bagi-bagi rokok dan membeli beberapa botol minuman. Sementara aku? Uangku sudah habis ketika sampai di Jambi. Aku sempat berfikir, apakah harus singgah di sini dulu, mencari pnjaman pada seorang kawan, Dimas, sastrawan senior di kota itu sembali berbincang soal fenomesa sastra di sana dan perihal acara kongres sastra yang akan berlangsung bulan Juli nanti di sana. Ah, tak usahlah. Berapa lagi ongkos yang aku butuhkan untuk naik bis lagi. Kalau pun sekarang uangku habis, yang paling penting hanya soal makan. Malam ini, kalau aku kuat puasa, saat itu memang ramahdan, tetapi di jalanan, di mana perutku tak tahan tanpa air putih dan obat mual, aku tak melaksanakan ibadah wajib tersebut.

Di Padang, aku sempat menginap dua malam. Kebetulan ada acara sastra di Unand, dan teman-teman sastra di sana, meminta aku dan seorang kawan yang ama-sama mudik untuk ikut acara mereka. Sekalian silaturahmi. Dan ongkos pulangpun akhirnya tak jadi soal.

Dari Padang ke kampungku, membutuhkan waktu sekitar empat jam perjalanan. Aku masih meduga-duga apa yag hendak kulakukan di rumah. dan memasuki perbatasan kabupaten, hpku kehilangan sinyal. Tuh, kan. Untunglah aku memiliki kartu cadangan.
***
An aku menemukan kampung yang sedang berbenah. Tidak ahanya Telkomsel, ternyata di kampungku juga berdiri tower Indosat dan Xl. Bayangkan, kecamatan kecil ini, yang jauh dari ibu kota, membentang dari selatan Kota Padang, juhuh jamlebih perjalanan, hanya di kecamatanku ada tiga tower dari tiga operator sekaligus. Bahkan di ibu kota kabupaten pun, hanya ada sinyal Telkomsel satu-satunya. Ada apa sebenarnya? Mengapa kecamatan kecil yang terdiri dari beberapa kenagian ini saja?

Aku memang menemukan sisa gempa di tiap sudut rmah. Retakan-retakan dinding, atap yang rubuh, pagar yang ambruk. Tetapi yang lebih dasyat, hampir setiap anak muda menenteng Hp, kokia jenis kotemporer yang aku tak paham. Di mana fasilitasnya selalu ada musik dan video. Oleh-oleh dan kiriman tanah seberang, tentu saja.

Ketakutanku terjawab juga, satu dua anak muda mulai bertanya lirih, “berapa nomor hapemu,Uda?” sekali dua mereka melirik soni ericsonku yang jelek itu dan berkata, “Ada lagunya, ndak?”

Inilah yang terjadi kemudian. Ternyata operator seluler pun paham, bahwa di daerahku yang kaya ini gaya hidp menjdi kepentingan utama. Dari dulu alah. Pola hidpu mereka sudah mapan dan matrealistis. Segala jenis motor ada. Vario dan Mio jadi identitas saat ini. Anak muda tidak keren tanpa itu.

Surantih, kecamatan yang memiliki hasil laut terbesar di kabupatenku, bahkan mungkin untuk Provinsi. Muara sungai di penuhi bagan penangkap ikan. Ikan teri dari kecamatan ini terkenl di provinsi tetangga, Pekanbaru, Riau. Bahkan juga di ekspor ke Singapura dan negara tetangga lainnya. Di luar itu, perebunan merupakan penghasilanyang tak juga sedikit. Mereka menaan sawit, nilam, jati, gambir, getah dan tanaman tua lainnya agar bisa dipanen sepanjang tahun. Ketika aku pulang kebaran ini, anak-anak muda memiliki penghasilan lebih dari 30 ribu perhari hasil panen gambir.

Gaya hidup yang tinggi dan kebergantungan mereka kepada modernitas yang tanpa saringan itu memiliki sisi yang berlawanan. Satu sisi kemapanan tradisi ala kampung dengan segala keluguannya. Sisi lainnya adalah padanan pada dunia luar yang negatif. Dunia mereka adalah dunia selebritas, dunia infotaimant.

“DI Yogya ketemu Sheila on 7 Ndak? Pernah liat konser Ungu?” Pertanyaan-pertanyaan ini membuatku tersentak. Betapa dunia rasanya terasa sangat pendek rentangan jaraknya. Menreka mengikuti dunia hiburan dnegan antusias yang luar biasa. “Kami pernah nonton Peter Pan di bandara Tabing. Masa di Yogya ndak pernah nonton konser? Payah.” Kata mereka. Benarkah aku yang payah? Aduh, aduh.

Kembali ke Hp. Ini menjadi penting karena status di hadapan masyarakat dan kawan-kawan seusia. Kulihat, betapa mereka amat puas ketika menenteng handphond, headphone di telinga. Dnegan kaca mata hitam, ala Radja penyanyi band menjengkelkan itu, merka bergaya di pinggir jalan. Di hadapan kawan-kawan. Belum lagi gaya rambut yang mengikuti trend anak band. Membuat jurang antara yang mampu dan tak berdaya begitu terbuka dengan jelas.

“Hampir di tiap Hp memiliki fasilitas Video. Mereka mengambil (downloud, maksudnya) di counter. Satu lagi biasanya 1500 ratus. Tergantung hubungan dnegan merekalah. Untuk film porno pendek biasanya 2500.” Kata seorang rekan yng sudha berkeluarga memamerkan film-film pornonya padaku di pos ronda. Sekelompok anak muda berkumpul di belakangnya.
“Mereka punya yang begituan juga?”

“Iya dong. Tiap bulan ada film-film baru. Memang pendek sih, Cuma pas untuk ukuran henpon. Yang laku tuh, film-film Indonesia. Mereka bikin pelem gituan juga ya? Eh, kau sering liat di internet juga ya? Bagus-bagus nggak. Banyak pelem pornonya ya diinternet. Kalau aku ke Yogya ajak ya? Katanya bisa nonton di sana.”

Aha, aku tahu itu. di Yogya, aku sudah muak menonton bokep. Di warnet-warnet berjamuran film-film porno ala Indonesia yang diambil dari rekaman pribadi itu. tapi di sini juga bisa menjadi ladang bisnis yang menggiurkan. Aduh, aduh.

Aku terpaksa lebih sering menyembuyikan henpon dan diriku di dalam rumah. bukan malu. Cuma aku selalu kaget dengan pertanyaan-pertanyaan yang makin memuatku sulit menjawabnya. Bagaimana kebudayaan barat masuk ke kampungku yang polos ini? Mereka dan tentu juga aku adalah korban. Korban dari sistem yang dijajakan sampai ke ruang privat.

Dan sepanjang malam, sejak masa berbuka, anak-anak muda lebih banyak duduk di pos ronda, atau berhamburan denfgan berbagai jenis sepeda motor mereka – segala merk ada. Yang lain, sepertiku, dengan sedikit malas terpaksa melangkah ke masjid. Lalu sehabis taraweh, dengarlah Nidji, Kangen Band, Ungu, Matta Band, Letto mengalun lancar di mulut mereka. Sefasih kami mengeja kitab suci ketika aku kanak dulu.

“Hei, kamu punya hape juga kan? Aku liat dong. Nokia tipe berapa? Di Yogya harganya berapa, ya? Aku ingin sekali punya.” Aku tak tahu itu keluar dari mulut siapa lagi. Malam terlalu memabukkan untukku, berbaur dnegan kerinduanku pada gadisku di seberang pulau. Dan malam ini aku tergagap melangkah pulang, jalanan yang kecil dnegan genangan air di pinggirnya ramai oleh kendaraan yang hilir mudik. Aku menginjak selokan becek, sisa hujan barusan. Dan meraba-raba arah di jalan lintas selatan yang gelap dan suram.

Lebaran ini, di kampungku giliran siapakah yang akan masuk ruah sakit karena kecelakaan? Cepat-cepat kuusir pikiran konyolku dan sebait lagu mengalir dari berisik suara gitar dan teriakan kawan-kawan yang mabuk, “Tapi, kamu kok selingkuh…”

Aku ingin tidur saja dan malas keluar rumah.

Januari 2008

Saturday, December 29, 2007

Sepenggal waktu yang sisa

jika memang ada yang baru, maka kuucapkan juga padamu,s elamat tahun baru.

tapi, sungguh aku tak yakin dengan diriku sendiri.

Friday, December 21, 2007

Gumaman Ujung Tahun


Malam Idul Adha

hujan jatuh di sebelahku

sebelahnya lagi sepi bernyanyi

dingin menyusup dalam dadaku

inilah gerhana jiwa

letupan hati yang peling sempurna

ada payung

yang tak satu pun bisa kukenal betul warnanya

tanah basah yang aromanya

bagai tawa manis kekasih

lalu meninggalkanku diam-diam

(Sebuah Hujan)

Selalu, di waktu-waktu special dan intim, aku merasa sendirian. Ini malam, 19 Desember 2007. besok orang-oramng merayakan Idul Adha. Aku mendengar gema takbir berkumandang, aku merasa kian sendirian.

Beginilah mula-mula. Aku sendirian, berhitung dnegan kemiskinan dan rasa sakit. Tak banyak yang kuinginkan dalam hidupku awalnya. Sederhana saja, setiap kali bangun, aku memiliki sebatang rokok dan beberapa receh untuk mengganjal perut. Aku tak terlalu manja sebenarnya. Aku tak perlu jadwal dan rencana. Ketika aku menginginkan sesuatu dan aku mampu maka segalanya berjalan dnegan sederhana.

Tapi segalanya berubah setelah aku bertemu kau.

Aku tak akan menuliskan banyak hal di sini. Aku memulai sesuatu dari awal. Meyakini seseorang, mempercayai sikap dan kata-katanya, mulai mengenal jadwal dan mandi pagi, potong kumis dan hal-hal sederhana yang dulu terlupakan.

Aku terbiasa dan mulai takut kehilanganmu.

Barangkali kita, bermula dari kesakitan orang lain. Kupikir keindahan hanya diciptakan untuk kita. Satu sama lain, sepanjang waktu saling membutuhkan. Dan orang-orang mulai meninggalkan kita satu-satu. Kupikir, jika bersamamu aku merasa lebih bahagia, mengapa aku harus menangisi kehilangan lagi?

Apa yang kekal di dunia ini? Juga dirimu. Berlahan aku merasa, kita semakin jauh. Memang, sepanjang hari kita selalu bersama, selalu ada. Tetapi betapa rasanya ada yang lain kini. Tentu ini bukan yang pertama, tapi kupikir ini yang terakhir. Kau pelan-pelan menjauh dariku dan melewatkan hari-hari special tidak denganku. Dan selalu, sepanjang hari-hari special itu, aku kehilangan kau.

Apakah yang sedikit dans empit ini harus dibagi pada yang lain? Dan aku semakin paham (tapi tak sungguh mampu meyakinkan diri) bahwa kau tak akan pernah pulang lagi, mengetuk pintuku dan menghambur masuk dalam pelukku. “Hujan terlalu deras saying, aku basah.”

Tak. Kupikir, rasanya terlalu banyak hal-hal manis yang tak lagi kau dpatkan dariku. Mungkin kita perlu belajar menghargai. Sementara ini, aku tak bisa lepas darimu sekaligus ingin lari darimu. Aku menyayangi sekaligus membencimu sepenuh hati. Mungkin aku menyayangimu dengan segenap diriku dan membencimu dengan sepenuh hatiku.

Bagiku, memilikimu adalah memiliki dunia ini.

Besok tak ada yang bisa kukorbankan. Hanya dirimu milikku sati-satunya. Tapi kupikir, malam ini aku telah menyiapkan ‘pengorbanan’ yang paling besar dalam hidupku. Dan aku mencintaimu. Aku akan mengorbankan hatiku untuk kebahagiaanmu. Mengorbankan dirimu untuk kebahagiaanmu. Hanya dirimu yang kupunya dan inilah yang harus kuberikan sekarang juga.

Aku tahu, aku akan kehilangan seluruhnya dan tak begitu saja bisa melepasmu. Tapi kupikir waktu akan berdamai juga dengan kita. Dan aku akan merasa (kelak) betapa damainya mendengar takbiran sendirian.

Kepadamu dan seluruh manusia yang mengenalku dan yang aku kenal, aku ingin berkata, “terimalah pengorbananku ini…

Kepada kalian yang sempat mengenaliku

Padamulah sajak ini kutuliskan

Agar tunai utang janjiku

Kepada kalian yang sempat kusakiti

Kutasbihkan tubuh ini untuk seluruh kebencian

Agar kelak tak ada yang mengenang kebaikan

Yang belum pernah kuperbuat

Kepada kalian yang sempat membenciku

Kupercayakan takdirku atasmu

Agar kelak aku tak melulu hitam-putih

Kesadaranku masih penuh

Kadang, untuk sebuah kejahatan tak ada

Yang pernah meniatkan. Dan kejahatan tercipta

Ketika kau merasa menjadi korban.

Kepada kalian yang sempat merasa dendam

Kuyakini dengan segala kesungguhan

Kaulah malaikat itu yang menentukan arah hidupku

Kepada kalian, kurasa tak perlu maaf

Dengan demikian impaslah kita

Dan kalian tak perlu membayar atas pelajaran

Sederhana ini; tak akan ada yang mengulang

Kejahatan yang sempat kuciptakan.

2007

(Sajak Kepada Semua Orang)”

Saturday, December 15, 2007

Penggalan terakhir kisah kami


Catatan Sebelum Hujan Turun

Sepertinya banyak rencana-rencana kita yang batal. Mungkin saya tidak akan pernah sempat menikmati Kopi Joss di Tugu sana. Mungkin saya tidak akan pernah mencoba makan angkringan di jalan Timoho. Atau barangkali aku tak akan pernah menjejakkan kaki dan mencicipi makanan di Taman Kuliner. Menjilat lelehan kopi coklat di Toga Mas. Menikmati kecipak sungai –yang barangkali akan deras di musim hujan ini– sambil menikmati susu hangat di Kopi Plus.

Banyak rencana kita yang batal. Bukan musim hujan ini yang menghancurkan keinginan. Bukan. Kita mungkin tak akan pernah menikmati sore di Patehan, memandang Alun-alun Kidul yang ramai dan berisik suara-suara, kita mungkin tak akan pernah lagi menikmati makan dari kedai Laris yang nasinya menggunung itu, atau jus mangganya. Mungkin aku tak akan pernah berkunjung ke Goeboex lagi untuk menikmati secangkir kopi dan berceloteh banyak hal.

Kita mungkin tak akan benar-benar pernah lagi ke Bantul, memasuki rumah impian, seperti dulu. Melewati jembatan goyang, atau bersandar di batu-batu sambil menatap lembah di balik rerimbunan semak di areal perumahan di bukit berkapur itu. Atau, mungkin kita tidak akan akan pernah lagi ke Sewon, mengajak Tsabit keluar atau sekedar mengantarkan oleh-oleh buat amak.

Aku mungkin tak akan pernah lagi duduk di Garden, mengirim tulisan di warnet kampusmu, sambil menunggumu selesai kuliah. Kita tak akan pernah betul-betul jadi memancing dan menyantap hasil pancingan kita.

Kita mungkin… ah, kalau pun kau akan ke sana, menikmati suasana yang dulu itu, tentu saja kau tidaks edang bersamaku. Dan aku, kalau pun suatu waktu punya keberanian memasuki tempat-tempat yang kukenal dan tak kukenal itu, tentu akan menjadi rahasiaku saja. Pada siapa lagi aku bercerita jika bukan padamu?

Pasti, aku akan merindukan saat-saat di mana kau dating dengan kejutan-kejutan kecilmu\. Tentu aku akan merindukan saat-saat di mana kau menyandarkan kepalamu di bahu bungkukku. Atau ketika kau yang tak tahan untuk tak berbaring di pelukanku. Saat kita mempertengkarkan sesuatu, saat kita saling marah dan ngambeg, saat di mana kau dating dan mengajakku makan, saat di mana kau begitu peduli kepadaku. Aku akan merindukan matamu yang basah, merindukan tawamu yang riang, atau kebiasaan unikmu, kentut dan menudingku. Aku akan merindukan bongkahan asap rokok keluar dari mulutmu. Aku selalu akan merindukan wajah letihmu. Saat-saat manjamu, saat kita di suatu tempat. Saat..

Aku akan selalu merindukan itu. Mungkin sesekali kau juga akan mengingat hal yang sama.

“Kita harus saling melupakan.” Begitulah kalimatmu akhirnya. Kata-kata yang sudah beberapa kali sempat kau ucapkan. Kau tahu, utuk melakukannya, kurasa kita akan sama-sama kesulitan. Tetapi apalagi, setelah kita sama-sama sakit, setelah tidurku yang tak akan pernah bisa nyenyak ini. Kau benar, barangkali, inilah jalan satu-satunya. Kau tak bisa meninggalkan orang lain dan lingkungan yang selalu memberimu tempat ternyaman. Mungkin lebih baik kau kehilangan yang satu ini ketimbang kau kehilangan banyak.

Aku mencintaimu. Aku ingin memberi yag baik buatmu. Jika itu adalah membikin jarak dneganku, apa boleh buat? Aku tak tahan didustai dank au tak bisa dicurigai. Kita sama-sama keras kepala dan egois. Aku selalu merasa bodoh dan gampang tertipu ketika kau berbohong padaku. Kau merasa terancam dan diteror tiap kali aku curiga padamu. Apa boleh buat, kita sama-sama memiliki satu hal yang berbeda. Aku tak suka dibohongi, kau tak suka dicurigai. Dan kau tak bisa meninggalkan apa pun untukku. Tentu lebih ringan kehilangan satu ketimbang yang banyak itu.

Tapi bagiku, kehilanganmu adalah kehilangan segalanya. Kupikir kau juga sesekali merasa butuh.

Tapi begitulah hidup. Aku cengeng dan kau begitu tegas. Kupikir segalanya akan baik-baik saja. Ternyata kau mengingat lebih banyak kekuranganku ketimbang kelebihanku. Jadi maafkan aku.

Mungkin saja kita suatu waktu sedang menatap hujan yang sama, di tempat yang berbeda dnegan rasa yang lain pula. Sebab aku begitu mencintai hujan dan selalu ingin masuk di dalamnya. Sednagkau menyukai hujan sebentuk perayaan. Jangan-jangan bersamaku kau seperti sedan menimkmati hujan dan tak berniat masuk ke dalamku?

Aku menyayangimu. Maka aku harus merelakanmu pergi. Sebab kita tak bisa hidup melulu dalam sakit dan sakit. dan kau lebih memilih melupakan semua perihal tentang kita. melupakan hal-hal yang pernah kita lewati, hal-hal yang belum sempat kita lakukan, hal-hal yang masih menjadi impian, hal-hal yang barangkali belum tercatat.

tahun baru ini, seperti tahun-tahun lalu. aku sendiri dengan seluruh kerelaan yang kumiliki.

14 Desember 2007

Wednesday, December 5, 2007

Catatan Singkat


Dongeng Kehilangan

Selasa, 4 Desember 2007

Akhirnya aku mulai membencimu

Membencimu sebagai masalalu yang terlalu singkat

Kesendirian adalah kawan yang paling karib

Kurasa mulai saat ini aku tak lagi memiliki apa-apa. Sepeninggalmu, kurasa aku sudah habis. Aku tahu, waktu akan bergerak seperti biasa, dengan rutinitas yang sama. Matahari akan selalu terbit di Timur dan tenggelam di Barat.

Tetapi kehilangan adalah sebuah peristiwa lain. Kau patut merayakannya.

Segalanya penuh kejutan dan serba rahasia. Aku mengenalmu dan kita akrab dengan cepat dan menggarap peristiwa buru-buru. 24 Oktober saat itu, lebaran ke dua tahun 2006, aku merasa memiliki sebuah tanggung jawab setelahnya. Dan jika kemudian, hari ini semuanya selesai – sebenarnya sejak sebulan yang lalu – aku harus belajar menerima dengan nikmat yang sama. Apa sih yang lebih dekat dengan kita selain sakit?

Kurasa kepedihan ini adalah milik kita. Kau juga merasakannya, mungkin menikmatinya dnegan cara yang lain. Setidaknya, sepeninggalku, kau memiliki kawan berbagi. Dan aku? Tapi kita tidak perlu saling menyalahkan waktu yang berpendar setahun ini bukan?

Maka, jika ada salah, satu-satunya yang bisa kita lakukan tentu saja belajar memaafkan. Selebihnya kau akan menggarap peristiwa lain, dan aku dengan pelan tentu akan belajar melangkah pula.

Betapa takut aku dnegan keberangkatan. Sebab itu pula, aku malas mengagarap kenangan dengan sia pun. Aku malas memulai hubungan dnegan orang-orang baru. Merteka hanya akan menggoreskan peristiwa dan tanpa rasa bersalah akan pergi sejauh-jauhnya.

Kau benar, setelah kehilangan barulah kita mengerti apa makna kehadiran bagi kita. Aku, misalnya dua minggu terakhir dihadapkan pada mimpi buruk tentang kau dan dia. Sungguh, malam-malam begitu menyiksa. Aku tak sepenuhnya bisa tidur. Telah lebih dulu bayangmu kuusir, tapi ia hadir dalam wujud lain. Aku berharap, jika di dunia nyata kita memang harus sama-sama sakit, dalam mimpi auks edikit bisa berdamai dnegan dirimu. Tapi tidak. Aku takut mimpi-mimpi itu menjadi nyata. Kau dan dia, sungguh saat ini aku belum bisa menerima.

Aku mencemburui segala hal yang kauciptakan dnegan orang lain. Maka setiap pertemuan kita selalu diisi dengan pertengkaran sengit. Kita sama-sama keras kepala. Kau tak merasa bersalah dan aku merasa kau masih saja milikku. Dan setelahnya kita hanya saling berpeluk dengan rasa yang lain.

Aku pun belum sepenuhnya bisa menerimamu sebagai teman atau saudara. Terlalu cepat pergantian ini. Aku tak siap.

Tapi sejak kini, setelah pertengkaranm singkat tadi pagi, setelah surat-surat tak terbalas, segala keinginan tak terpenuhi dnegan seluruh hatai aku melepasmu. Semoga aku kuat untuk mengatakan “tidak” untuk setiap ajakanmu, semoga aku bisa jauh-jauhdarimu, membiarkan kebahagiaan menjalar di seluruh dirimu.

Aku tak pernah inginkan dirimu jadi bayang-bayangku. Tak terniat olehku. Siapalah aku diantara keramaian dunia ini? Tapi bagimu ini menyiksa dan kita tak akan bisa hidup karenanya. Bagaimana kita bisa menjalinm peristiwa lain jika kau menganggap aku musuh yang diam-diam menerkammu? Bagaimana aku bisa menerima jika kau pikir aku orang yang diam-diam menghancurkan hidupmu?

Aku mencintaimu maka aku harus emlepaskan dirimu.

Sebuah cerita Murung

Akhirnya, kau mau jujur juga padaku, bercerita tentang banyak hal yang selama ini begitu gelap untuk kita. Persoalan yang melulu itu; rahasiamu dan kecurigaanmu. Tanpa kutulis di sini pun, aku akan ingat setiap detail ceritamu, bagaimana kau bercerita, emosi dan getaran suaramu bahkan tanpa melihat pun, aku bisa merasakan mimic wajahmu. Kau memilih bahasa yang agak hati-hati, mengulang beberapa bagian dengan sangat cermat. Dan aku sengaja melambankan laju kendaraan agar ceritamu selesai sebelum kita sampai di tujuan.

Segalanya telah begitu terang, seterang tujuan kita kini. Kesempatan yang dating tentu tidak akan kita lewatkan. Kau sudah begitu jujur padaku, bagaimana aku bisa membenci dan bermusuh dneganmu. Mungkin kita saling membutuhkan dalam soal rasa ini. Dan aku, betapa bahagia sekaligus sedih mendnegar bagian-bagian dari peristiwamu yang aku tangkap intinya, betapa berarti dirimu untuknya.

Tetapi tahukah dirimu, bahwa bagiku kau justru lebih dan amat berarti? Tapi apa kini? Semua orang selalu menginginkan peristiwa baru. Peristiwa kita begitu usang, begitu sumbing dan tak lagi mendebarkan.

“Sampai saat ini belum ada apa-apa.” Katamu. Tapi waktu? Siapa yang bisa menolak hadirnya.

Petang mengambang, gerimis jatuh dan kita mesti meninggalkan jalan-jalan yang kian ramai. Magrib menjelang di Taman Siswa dan kita harus segera pulang dan belajar agar lebih dekat dnegannya. Pulang.

Mungkinkah ini pulang kita yang terakhir? Aku selalu berharap begitu, tetapi alangkah sukar untuk sekedar berbenah dan meninggalkan rumah yang setahun ini kita akrabi benar lekuk-celahnya. Rumah yang mau tidak mau akan menjadi milik kita yang paling rahasia sebelum kita kembali ke jalan-jalan, mencari tempat berteduh, entah di dada siapa. Dan aku akan kembali menjadi pelabuhan. Pelabuhan yang kali ini –semoga– menerima dan melepas keberangkatan tanpa berniat menjadi kapal.

Seperti lagu kanak kita di sekolah dulu, aku ingin bernyanyi kecil untukmu;

Kini tibalah saatnya, kita akan berpisah

Pisah bukan selamanya, terserah pada masa.

Setiap keberangkatan akan menemukan pintu pulang. Aku percaya itu. Suatu waktu, kau pun akan merundukan pulang. Tentu saat-saat yang sedikit lebih gawat, saat rumah kita roboh dan aku terkapar endirian. Atau suatu ketika kita tak saling mengenal alamat pulang, tak ada yang kita milikki selain kenangan, tidak nomor hape, alamat rumah atau sedikit peta penunjuk arah.

Mungkin kau memang perlu merasakan sakit agar kau tahu apa rasanya ditinggalkan.

Tentu ini bukan doa, sayangku. Dan ini malam, sebutir obat tidur telah masuk ke perutku yang mulai kosong, lagu-lagu lembut dan aroma terapi telah pula kusediakan agar tidurku bisa lelap, agar mimpi buruk yang dua minggu belakangan ini bisa segera musnah dariku. Dan sebentar lagi aku akan melewati jalan ini, jalan yang berjarak beberapa ratus meter dari tempaku duduk sekarang. Kau menuju pulang, sendirian entah dengan seseorang.

Saturday, November 10, 2007

Belajar Kehilangan



Setiap kali kau menemukan
Adalah juga kehilangan


Kupikir, apa yang kumiliki selama ini tak akan pernah habis untuk kumiliki. Aku berpikir segala yang aku punya tak akan pernah lagi lepas dariku.


Tiba-tiba aku merasa begitu tolol. Aku merasa sudah memiliki dunia ini dengan kesederhaan hidupku. Tak banyak yang kuambil dari dunia ini sebenarnya, secuil saja, selebihnya, bagian besar itu, kuserahkan pada orang lain untuk dimiliki mereka. Mereka butuh hidup yang lebih dariku. Sebagai balasannya, dunia mengambil banyak dariku. Semua, sampai-sampai aku tak memiliki apa pun lagi. Bahkan untuk sekedar menyaksikan milikku yang tiba-tiba bukan milikku lagi.


Bahkan untuk memiliki diriku sendiri, betapa aku sudah tak mampu.


Mengapa selalu ada yang pergi? Mati, itu barangkali mula-mula, sebentuk takdir manusia. Atau mungki ketika Adam dan Hawa dilemparkan dari surga? Ini warisan kesedihan. Meninggalkan dan ditinggalkan.


Manakah yang lebih sakit, meninggalkan atau ditinggalkan?


Setiap kali aku meninggalkan apa pun yang aku miliki, aku merasa kehilangan. Aku merasa ditinggalkan sekaligus. Tapi, mengapa ada yang pergi dnegan ringan hati, tanpa menoleh lagi ke belakang? Kurasa merekalah ksatria. Melepas segala kenangan dan peristiwa di belakang. Mereka mungkin menyadari, bahwa hidup berjalan ke depan. Tapi aku, oleh keberangkatan-keberangkatan, tak pernah menjadikannya matang. Aku selalu kanak setiap kali ada yang hilang, setiap kali ada yang pergi.


Betapa aku tak pernah didewasakan oleh keberangkatan yang membelitku sepanjang usia. Selalu ada yang pergi, meski ada yang dating, tapi betapa tidak sebanding antara keduanya itu, hingga aku nyaris tak memiliki apa-apa lagi saat ini. juga diriku sendiri.


Bagiku, meninggalkan sama seperti melepas keberangkatan. Sama-sama merasa kehilangan.

Tuesday, November 6, 2007

semua, maafkanlah aku


dek, inilah koto yang sukma kenal itu.

tak ada yang manis yang akan kau kenang dek. sama sekali tak ada. apa yang baik yang bisa dikenang olehmu sukma? setelah setahun, setelah semuanya genap kita lakukan.

jika ini terjadi, mungkin inilah takdir kita. semoga sama-sama ada pelajaran bagi kita.

dan kita selalu ingin, peristiwa berakhir dnegan baik bukan?

dan kita juga

Pada akhirnya

inilah, pada akhirnya aku harus pergi darimu, ma. sebuah keputusan yang akhirnya mau tidak mau harus kita sepakati. aku pergi dengan meninggalkan seluruh cinta yang kumiliki. tak ada yang kuambil selain tubuhku. dan kau terus saja tumbuh di diriku.

ajarkan aku cara melupakan. ajarkan aku melepas seluruh keperihan.

tak sesiapa yang bisa kita salahkan. tak sesiapa. mungkin waktu

dan kini, setelah setahun itu...

Friday, September 21, 2007

Ramadhan, Kemiskinan yang Berulang

Ramadhan, Kemiskinan yang Berulang

Entahlah, aku mulai merasa kemiskinan bermain-main di sekitarku setiap kali nulan puasa. Sejak puasa tahun lalu, di mana saya harus menggantungkan hidup pada kawan-kawan. Lama-lama saya merasa malu juga. Dan mulai berbuka dnegan segelas air putih dan sahur dengan menu yang sama.
Beruntunglah waktu itu aku bertemu dengan beberapa kawan baru yang selalu dating pada waktu-waktu tertentu. Sukma misalnya, ketika perutku sudah tidak kuat lagi menahan lilitan maag, entah bagaimana caranya dia muncul dan menawarkan aku sebungkus nasi. Begitu juga yang lain, Ridwan, Ucup, Fahmi, Ira dan yang lainnya. Sesekali, aku ke Piyungan ke rumah Mahwi, sekedar menumpang berbuka dan sahur.
Sepertinya peristiwa ini sedang berulang padaku. Jika tahun lalu, kami bergerombol, sehingga kemiskinan tidak terasa begitu mencengramku, ramadhan tahun ini aku akan sendirian.
Aku merasakan itu kini. Kesendirian akan menelanku mentah-mentah. Aku memiliki banyak kesalahan di mata sebagian orang, tanpa mampu aku membenahinya. Kesendirian, kemiskinan dan rasa perih akan membelitku sepanjang tahun ini. Beberapa rencana sepertinya akan batal. Mungkin pulang kampong, satu-satunya keinginan yang harus aku penuhi. Meskipun aku sadar, kepulanganku yang pertama ini berbeda jauh dari rencana semula.
Kampungku diguncang gempa, dan aku didera kemiskinan. Aku tidak tahu sampai hari ini, dengan apa aku akan pulang. Sementara di tanganku tak sepersen pun uang. Entahlah, mungkin kesedihanku kali ini akan bertambah begitu sampai di rumah nantinya. Apa boleh buat. Lebaran di Yogya, dengan kesendirian, dengan luka baru dan hati diliputi cemas akan rumah dan kampong, mungkin tidak seburuk jika aku berada di rumah, di kampong halaman. Kepulanganku yang pertama ini, dengan kemiskinan ini, mungkin akan cukup melepas keresahan diri, meskipun akan rasa tidak aman dan nyaman akan memburukus epanjang waktu. Apa boleh buat. Menjauh dari kesakitan mungkin pengecut. Tapi menghindari dengan kedekatan yang melulu perih mungkin akan menyelamatkan beberapa rencanaku yang sederhana.
Itu saja. Selamat berpuasa. Selamat berlebaran.

Sunday, August 12, 2007

bapak dalam sebuah ingatanku


Abak

agustus ini aku merasa tidak sedang merdeka

Akhir-akhir ini aku sering ingat Abak. Barangkali karena sudah lama kami tidak bertemu dan kini aku merindukannya. Aku bayang-bayangkan wajahnya yang semakin hari semakin kurus itu, yang bersisa di wajahnya dan tak berubah tentu hanya kumis tebalnya yang kini barangkali pula sudah putih semua. Rambutnya juga. Aih, waktu empat tahun tentu telah merubah banyak tubuhnya. Kulitnya tentu tidak lagi sekencang dulu, banyak kerutannya, urat-urat membentang sepanjang lajur kaki dan tangannya. Bibirnya semakin hitam dan memucat. Tidak, aku tidak tega membayangkan Abak dengan wajah seperti itu.

Tapi siapa yang bisa melawan hukum alam. Dan Abak bukanlah sebagian dari orang yang melulu bersenang-senang, makan enak sehingga ketuaan tak berani merusak tubuhnya. Kabar yang kudengar dari Amak, sepanjang hari Abak tak pernah lepas dari pekerjaan kasarnya sejak dulu. Pagi-pagi dia sudah mengganti pakaiannya dengan kain samping (pakaian ‘resmi’ untuk bekerja), menghirup segelas kopi dan batangan rokok sebelum mengambil cangkul dan bekerja. Tapi Abak tak sedang berangkat ke ladang kami yang dulu, ladang yang pernah kami tinggali delapan tahun lebih. Ladang yang sekaligus rumah kami, di mana hampir tak ada celah lahan yang tak tertanami apa pun. Pada waktu-waktu tertentu kami memanen cabe merah keriting, lain waktu kami memetik kacang panjang, di antara mentimun dan semangka. Di waktu yang lain kami memanen kacang tanah dan jagung. Di lain waktu kami tentu sAmakk di sawah, tapi Abak akan menyisakan sedikit waktu di sore hari merawat cabenya, untuk biaya sebelum musim panen datang.

Kini ladang Abak sudah berpindah juga jalan dan kelokannya. Sekarang setiap kali turun dari rumah dia tidak langsung menghadap kebun yang rimbun tanaman, menyelinap di antara batang-batang kopi, sesekali memperbaiki cabang dan dahan cengkeh, rambutan atau kelapa yang masih muda. Kini Abak mesti menyeberang jalan, melewati sawah munggul yang sesekali penuh luluk (lumpur) di musim hujan dan tanah retak di musim panas sebelum sampai di ladnagnya yang memanjang di antara pematang sawah, di antara dua kampung Taratak dan Lampanjang. Malam-malam ia tak lagi bisa duduk di beranda menatap pohon-pohon yang merunduk karena dingin.

Abak sudah tidak tinggal lagi di rumah kami, rumah yang sudah dibangunnya dengan keringat sendiri. Rumah yang akhirnya berdiri tidak dari tanah tempatnya lahir, tumbuh, berkeringat dan berdarah. Tanah seberanglah yang akhirnya menyelamatkan kami dari rasa malu setelah bertahun-tahun tinggal di ladang, jauh dari permukiman dan tak mampu mengganti alas kasur dan kain samping. Rumah itu pula yang kemudian mengantarkan Abak ke pintu lain.

***

Nasib memang tidak bisa ditebak jalannya. Dulu jika ditanya apa yang kuinginkan nanti kalau besar jawabku selalu pasti. sampai kini.

“Mau bikin rumah untuk Abak dan Amak. Lantainya dua. Abak dan Amak tinggal di lantai atas. Tak boleh bekerja yang berat-berat. Abak hanya duduk, ngopi dan merokok Amak cukup merenda saja.” Aku terlalu kecil waktu itu, terlalu sederhana melihat hal-hal lain yang tak terduga. Belum mengerti arti jarak.

“Kenapa tak boleh bekerja?” Kata Amak selalu, memancingku.

“Kan aku sudah kaya. Jadi tak perlu lagi bekerja.” Kataku tanpa paham apa itu kaya.

“Kalau kami tak bekerja, tangan kami akan sakit dan mudah capek.” Balas Abak tak mau kalah, dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya, membayangkan cita-cita luhur anaknya.

“Nanti ada tukang pijit yang datang.”

“Tapi kami kan harus tetap bekerja.”

“Tidak bisa. Duduk-duduk saja di lantai atas. Ruangannya semua di buat terbuka sekeliling, di tengah-tengahnya kamar tidur.”

“Itu mengasih marah namanya. Masa kami tinggal di rumahmu tanpa bekerja sedikit pun.” Sela Abak pula.

“Ya, kerja sedikit bolehlah. Memperbaiki kandang yang lepas, memeriksa ayam dan telurnya, mencabut rumput dikebun juga nggak apa-apa.”

Amak lain lagi yang dirisaukannya. “Kalau kami tinggal di lantai atas, kami takut terjatuh kalau kemana-mana. Bagaimana pula kami berak dan hendak pipis harus turun-naik tangga.”

“Di atas kan ada kamar mandi dan WC-nya.” Jawabku pula, bangga dengan bayangan yang begitu sempurna.

“Seperti dalam penjara saja.” Kata Abak lalu tertawa.

Kini aku maklum kerisauan Abak dan Amak. Usia tua tentu akan membuat mereka kerepotan jika berhadapan dnegan tangga. Aku berpikir rumah mewah dengan dua lantai sesuatu yang penting dan berharga. Yang tinggal di lantai atas sama seperti raja kedudukannya. Tinggal perintah.

Kini tiap kali Amak menelepon dan mengingatkan aku akan cita-cita dulu aku ingin terisak saja.

“Kini Abakmu di rumah orang. Tak akan mungkin tinggal di rumah beranjung (bertingkat) yang kau bikinkan. Dan Amak tentu sangat kesepian.” Katanya tak kalah gamang.

Kecemasanku sekarang bukan lagi pada soal apakah aku bisa membangunkan rumah untuk mereka atau tidak, tapi lebih pada rasa cemas kehilangan. Kami sudah punya rumah, untuk mereka rasanya cukuplah. Tapi kepergian Abak dari rumah, bagaimana kami bisa kembali membawanya?

“Akukan selalu menemani Amak.” Kataku menyadarkan ingatan.

“Kamu kan sudah berkeluarga. Bagaimana dengan istrimu.”

“Aku tidak akan menikah dengan orang yang cerewet pada Amak dan Abakku.”

“Hanya Amak yang mendiami rumahmu nanti. Tak ada Abak.” Katanya pilu.

Aku menangisi perasaan yang ganjil ini dan terlalu menyukai imaji yang main-main macam begini. Amak sedang mengujiku, itu saja.

“Kau berhasil saja maki sudah bangga.” Begitu selalu katanya.

Tapi Abak pergi, tersesat di pintu lain, bagaimana aku harus menjemputnya. Jika pun aku menjelma Rambun Pamenan, Sutan Palembang, dan tokoh cerita dalam rabab yang berjuang menyelamatkan bapaknya dari musuh yang mengurungnya, kurasa aku tak akan bisa. Sebab dirinya sedang tidak sedang ditawan siapa-siapa. Hatinya mungkin masih tetap ada di rumah, sebagian saja yang dibawanya.

***

“Sekarang kerja Abakmu bertambah-tambah.” Cerocos Amak lewat telepon. “Setiap pekan membawa hasil kebunnya yang tak seberapa ke pasar. Dia jualan terong, cabe, kacang dengan mengecer, maonggok-onggoknya di tengah balai. Maklumlah musim kemarau. Ladangnya sekarang kan tidak seperti di bukit dulu. Musim hujan selalu basah, musim panas kering sekali.” Aku bisa memahami pula tentu Abak akan kerepotan mengatur lahannya yang kecil dan sempit itu, sehingga tak bisa bertanam lebih banyak.

Aku hanya mendengar cerita soal Abak sepenggal-sepenggal dari Amak, sebab beluai tak banyak tahu. Aku paham, kepergian Abak tentu menyisakan rasa sakit dan pedih di hatinya. Tapi selalu saja hal-hal yang dapat diceritakan padaku soal Abak. Dan tentu sangat subjektif mengingat kondisi Amak yang juga sangat berat.

“Sekarang dia juga sering pulang ke rumah kita. Menjenguk Monika dan Fikra ponakanmu itu, begitu alasannya.” Kata Amak pula dnegna nada yang agak berat.

“Biarlah. Itukan rumah beliau juga.” Kataku pula.

“Ndak bisa. Sekarang dia sudah tinggal di rumah orang. Itu yang membuat Amak tak mau pulang. Apa pula kata orang kalau nanti Amak pulang dan dia sering ke rumah.”

Aku menahan nafas. Paham benar apa yang dirasa Amak. Beliau terkatung-katung di negeri orang, mengais ringgit demi ringgit untuk dikirim ke rumah.

“Makanya Amak ke Yogya saja. Lebaran ini aku pulang.”

Amak diam saja. Ini sudah sering kami bicarakan. Tiap kali disuruh pulang selalu ada alasannya. Apalagi kalau harus ke Yogya. Aku tidak bisa bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa. Pasti masakannya lain rasanya. Lagi pula aku pasti kangen sama rumah, begitu salah satu alasannya.

“Nah kalau kangen, Amak bisa pulang kan?”

“Dan bertemu bapakmu yang kini tingggal di seberang kampung? Tak akan. Lebih baik Amak balik lagi ke Malaysia.”

Aih, aih, betapa aku tak banyak paham soal rasa.

“Setidaknya pulang dululah dan ikut kami ke Yogya.” Aku sengaja menyebut kami untuk mengatakan ini keputusan ku dan kakak yang tinggal di sini.

Aku mencoba mengingat-ingat wajah Bapak yang semakin kurus saja tentunya. Sedikit aku bisa merasakan bagaimana perasaan Amak jika tinggal di rumah dan sewaktu-waktu bisa bertemu Abak. Tentu amat sakit dan tak nyaman. Jika aku pulang nanti, aku tak tahu bersikap seperti apa di depan Abak. Tapi kesedihan ini rasanya sudah berada pada tempatnya.

Aku mengutuk nasib buruk yang tak mau pergi dari kami.

Yogyakarta, Agustus 2007

Abak: bapak

Amak: ibu

Tuesday, August 7, 2007

Ada Cinta di Yogyakarta

Ada cinta di Yogyakarta, kira-kira demikianlah aku jika boleh berkata.
inilah dia di antaranya:



Eh salah ding, bukan yang ini. maaf. anggap foto yang ini gak ada. yang benar adalah yang di bawah. heheh...

Nah..
sebuah malam di Taman Kuliner

Matamu hilang jejak (bait puisinya Tsabit)
Senyum dan kebahagiaan
dan cinta..

duh...

Tidakkah tanganku sekekar hatiku?
untukmu, yang semerah hatimu
juga bajumu

"Malam ini semakin dingin sayang.."

"Apakah kau harus kusembunyikan di kantomg bajuku
atau di dalam dompet?"

"Lihat.. ada sebuah dunia di sana."

"Tepatnya di hadapan kita."

Aihh.. diri yang sendiri ini.
tapi tidakkah kaus elalu ada di mana pun, sayang?
maka malam yang buram
dan kau yang hitam tenggelam
oleh segala yang buram

sekali lagi lihatlah,
dimanakah Fahmi??

ah.. inikah kebencian?
tentu tidak..
ialah kesedihan, pertemuan yang akan mengentalkan jarak.
tapi lihatlah, kami tegar bukan???

Thursday, July 26, 2007

Inalilahi wainailahi raji’un

Telah meninggal

DJATI WALUYO (Yoyok)

47 tahun

13 Juli 2007

Kami memohon maaf atas segala kesalahan yang dilakukan almarhum semasa hidupnya. Semoga diampuni semua dosa-dosanya oleh Allah SWT dan diberi tempat yang layak di sisi-Nya. Amin-amin ya Rabbal Alamin.

Kami yang berduka cita:

Keluarga Syahbandria

Keluarga Umi Pujoherwati


Begitu gampangnya kesempatan itu. tak ada yang menduga kecuali Dia yang berkehendak dan dia yang meminta. segalanya sudah diaturkah bukan? maka izinkan kami melepas segala yang pergi, segala yang mati. bukankah kelak kita akan susul-menyusul menuju-Nya juga?

ah..!!!

Sunday, July 22, 2007

sejarah kecil



sebuah ingatan sederhana



Juni, ketika FKY





duhhh...


Mutia Sukma-Koto

Tuesday, June 19, 2007

momento

ingatan, kadangkala mengingatkan kita akan sebuah hal: perih dan sedih. tetapi, tidak hari ini.


adakah ini semacam kesunyian atau semacam kemerdekaan ketika kau sendirian, sayang?


ketika ini, adalah waktu terasa berhenti


kadangkala, kita hadir di suasana yang lain dengan cinta yang sama. di antara keramaian, pada siapa pun kita bertatap, pada apa pun kita mengenal. kita adalah kita, untuk sebuah waktu yang panjang.


ah, kata, apalah kata, tak cukup bisa menghapus semua jejak. dan jauh di depan, apa pun bisa saja terjadi. tapi, bukankah kita berpeluk, hingga angin pun tak bisa lewat?



ai-ai, kita yang senantiasa bersama bukans emata urusan cinta. tapi sesuatu yang lahir tiba-tiba, saat di mana kau membutuhkanku, saat bila aku butuhmu. dan kita, memang tak melulu untuk ini.

di sana, di depan kita apa-apa selalu ada. segalanya bisa terjadi. kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita sadari...


dan, aku merenggas tanpa kita. juga kau, tentu saja...