Showing posts with label sajak indrian koto. Show all posts
Showing posts with label sajak indrian koto. Show all posts

Wednesday, July 23, 2008

sajak jalan lapar

Jalan Lapar


aku tumbuh dari rasa lapar

serupa jalan, menelan apa saja

dan tak pernah memulangkannya


apakah aku yang semakin tumbuh besar

ataukah jalan ini yang semakin tua

dan kurus, hingga belokan dan tikungan

bukan lagi rahasia tersembunyi?


kelaparan memulangkanku ke pangkal jalan

aku merasakan tubuhku kuyup

kehilangan. begitu banyak yang diambil dariku

dan tak pernah dipulangkan

kenangan, pohon-pohon tinggi

yang menutup beranda serupa belantara

tempat sembunyi para bocah

dari kehilangan dan keberangkatan

2007

pulang kampung

Pulang Kampung

aku tertidur seperti tenggelam
dalam pusara ingatan
segalanya seperti dibangkitkan
cenayang dan jin laut
serupa tenung, menghapus segala kenang

di sini karang sudah lama padam
dan laut serupa silsilah
terus menukik dan menghantam apa saja
ingatanku tumbuh
seperti batang jati
di petak ladang yang hilang jalan

dalam tidur kutemukan
wajah-wajah tak kukenal
dalam kecemasan yang sama
mereka menghitung dunia dari dalam
dompet mereka yang robek
tangan mereka hitam oleh getah gambir
yang sepanjang hari mereka akrabi liat licinnya
keringat mereka seperti hujan di dadaku
lalu tumbuh sebatang jagung dengan
malas dan malu-malu
mereka menatapku dengan asing
dan kesunyian yang dalam
di mata mereka tumbuh lampu-lampu
dan bendera asing, lalu bermunculan
banyak iklan; motor, celana-baju baru dan
lebaran yang lewat dengan sia-sia
handphoneku berdering, mereka
menggigil semakin nyaring, menyanyikan
amsal-amsal kota jauh
tentang selingkuh yang sentimental
serupa ratok, yang didendangkan begitu murung

aku terjaga dari tidurku yang singkat
tapi mereka, yang bermain dalam mimpiku
tak bisa pulang
mereka bergelantungan di pohon nilam, di batang
durian, di cabang rambutan dan seluruh akar tubuhku
dari jauh, mobil-mobil panjang dan besar
menggilas mereka, sampai tak satu pun
bisa mengingatnya. yang lain bergelantungan
lalu menghapus dirinya dari pohon silsilah
aku tak tahu, batas antara tidur dan jaga
diam-diam merasa kalah dan tak hendak
bangun lagi.

lansano, oktober 2007

Wednesday, July 9, 2008

sajak jelek

orang rantai

di kota ini, kau mungkin mengingatnya
sedikit saja
di tempatmu berdiri barangkali
keringat mereka jatuh, mengais tanah dan
rantai panjang yang berat
menyeretnya, seperti melepas nasib buruk
dan hidup yang terasa sia-sia

bisa jadi kau lupa
dan tak perlu mengenangnya
sebab hidup tak pernah mundur
kita cukup mengenangnya sebagai sebuah sejarah
kota dan tanah jajahan

di kota tambang, yang kau tak bisa singgah
kau akan mengingatnya
menyeret tulang dan nasib
menggaris tanah dengan rantai yang berat
dan anak-anak menyorakinya
sebentuk hiburan kampung koloni

“orang rantai, orang rantai…”

kau ingat sepotong-sepotong
padahal barangkali, di tempatmu berdiri
keringatnya jatuh, tubuhnya jatuh
ada doa yang gagal dikirimkan

di kota tua, orang-orang mengingatnya
sebagai sebuah sejarah
yang tercatat dalam panduan pariwisata
dan dari tempatku berdiri, sebagai pengelana
dan orang buangan, lamat kudengar
suara bisikan yang seperti mengejar dan memburu
setiap langkahku

“orang rantai, orang rantai…”


Yogya-Padang, 2007-2008

Wednesday, June 25, 2008

Pesan Singkat Seorang Pemuda yang Lama Merantau di Jawa Kepada Ibunya di Kampung Halaman

Mak, akhirnya
aku sampai jakarta.
Jakarta, mak. Jakarta

Juni 2008

Friday, June 13, 2008

Sepasang Maut

Sepasang Maut

kami dikejar-kejar bayangan laut yang menyimpan maut

setiap sudut ruang dan kegelapan

menyisakan takut dan rasa kalut

di mana peristirahatan paling nyaman

jika kamar begitu menakutkan?

kami yang suatu pagi dibangunkan gemetar bumi

tak hendak menjadi saksi

karena inci demi inci tubuh kami mulai mati

oleh haru dan rasa nyeri

waktu beringsut

menyeret kami pada putaran yang itu-itu juga

: bau mayat dan barisan panjang pusara

begitu saja kami dijegal. mimpi kami dicekal, dan rencana-rencana

menjadi batal. tak ada yang berniat menggali kubur,

tak ada yang berkehendak mengambil cangkul

kami hanya digayuti rasa lelah dan capek menyaksikan

banyak peristiwa penting dan tak penting lainnya

menumpuk, membukit, tumbuh serupa cerobong

mengalirkan larva dan pijar api

begitu-begitu saja.

sebagian kami memilih lembur

sebagian meminum obat tidur

sepasang pengantin lelap oleh haru biru

subuh begitu bening

penuh dengan rencana dan harapan

pagi semestinya suka cita

yang riang. di mana matahari membuncahkan berkah;

kami bekerja dan anak-anak sekolah

ini pagi lain yang tak kami temukan dalam mimpi sekalipun

bahkan sekadar ingatan pun betapa enggan

ia datang tanpa mengetuk pintu

menggantungkan kematian di tiap dinding

sejak kini, rumah menjelma hantu

kamar serupa maut yang mengintai siapa saja

tempat yang paling aman sekalipun

menyimpan kesumat dan bara dendam

oh, sepasang pagi yang menjelma sepasang maut

mengintai kami dan penjuru kota

kami dikejar-kejar bayangan laut

yang menyimpan maut

setiap sudut ruang dan kegelapan

menyisakan takut dan rasa kalut

Yogyakarta, 30 Mei 2006

Sunday, June 1, 2008

sajak

Stasiun; Sebelum Maut

pada keberangkatan terakhir
terasa riuh benar suara rumah
menyanyi di gendang telinga
matahari tengah menghabiskan pelurunya
hingga kota melepuh dan telanjang

seorang lelaki menempelkan sisa gerimis
di dinding stasiun
"selamat tinggal kesepian." teriaknya
dengan riang
stasiun tampak muram
orang-orang serupa penziarah yang menunggu

keranda.
"kubawakan kota untukmu, kekasaih
yang kukaitkan di kantong celana."
jerit seseorang yang lain, terlebih ringkih

betapa malang, siang yang sesak
nafas dan sendirian
setiap kata adalah kemuraman
yang kurang ajar
dan kemelaratan menorehkan
keberangkatan begitu saja
"akan kucium bacin keringatmu, ayah."
jerit yang lain tak mau kalah

para penumpang saling merebut mimpi
berharap jaga melemparkannnya ke depan pintu
dan seorang yang berbahagia itu
merasa menuju pusara ibu

diam-diam telah disiapkan untuknya
sebuah keranda
dan penziarah telah menunggu
di depan pintu.

rumahlebah, yogyakarta, 2006

sajak indrian koto

Ziarah Laut

/a
dengan sebutir kampung halaman
kutanam di dalam dompet
kutunggangi peta usang
yang terhampar di tanah lapang

kukendarai laut
hingga rumah tampak melepuh
kurapal jejak pendahulu
yang tertinggal bersama buih
hingga tubuhku menjelma laut
melulu biru

bukan laut ini benar yang keramat
hanya pelayaran sedikit nakal
memutar arah dan kemudi
juga angin liar yang mencabik cadik

kutemukan kampung seberang
tanpa jejak pendahulu
tanah yang semerah darah
serupa kafan di kubur para leluhur
panji-panji mengepul mengingatkanku
pada tungku ibu
yang asapnya memanggilku pulang

sebutir kampung halaman
yang kutanam di dalam dompet
terus saja tumbuh; sepetak ladang, sederit ranjang,
sisa batuk bapak pada masa kanak
yang tertempel di kamar mandi
layangan mengapung di atas rumah, bau kopi

dan daun nilam
usap lagi punggungku dengan tanganmu, ibu
sampai melepuh
sampai yang tertinggal hanya sebaris kantuk

dan aku menemukan tubuh
mengapung di tanah asing


/b
di mana selatan?
barangkali matahari dan cuaca
bersepakat
menipuku dengan arah angin
hingga aku lupa
masa kanak yang berserak
aku belajar menjala mimpi
memungut dahaga, meracik rindu –serupa bumbu
dan kesiur angin hanya nafas ibu

/c
alangkah sukar merapal jalan
pulang hanya sepetak ingatan
yang mulai rimbun
aku mendaki samudera
membaca sebiji pasir sebagai isyarat
leluhur

di sepanjang pelayaran
pulaupulau tenggelam
hingga tak sebiji pun kutemukan bau rumah
dan amis pantai
merentang layar, aku seperti menziarahi
kampung halaman yang bertumbuh
di dalam dompet

duhai, di mana rumah, sepetak
ingatan masa kanak?

rumahlebah, 2006

Thursday, April 3, 2008

Sajak-sajak

Tangan Rindu


aku menyentuh tangan kurusmu

wahai perempuan yang pandai memasak

luka. jemarimu runcing serupa rindu

yang disengai di dalam wajan. menjadi

rahasia api tungku, penyedap masakan

yang kau tekuni benar asamgaramnya.

jemarimu tempat luka dan rindu

bersarang. kau lemparkan bersama irisan

bawang. matamu, kesunyian makammakam

berabadabad menziarahi masalalu

yang tak kunjung jadi kekupu

tanganmu meruncingkan nasib buruk

takdir seorang perempuan

berakrab dengan bara dan pisau daging

tangis dan bau bawang, asap dan minyak goreng

di dapur, tak kunjung matang itu rindu

kau hidangkan lukamu pada banyak orang

sebentuk rahasia yang mesti mereka telan.

kau menanggung rindu pada kampung jauh

rindu yang seruncing garis tanganmu

tumbuh, bercabang dan memunculkan tunas baru

“pegang tanganku, sibaklah belukar dan

semak tubuhku.”

sepasang tangan yang serupa karang

bau dapur meruap bersama sabun dan

tangis yang tertampung di sana. betapa rindumu

menumpuk, tinggi serupa gunung.

tapi aku tak akan bisa menyibak belukar

tanganku terlalu mentah untuk menjadi

perambah dan membuka lahan, bahkan

untuk di dapur sekali pun

rindumu, mungkin jadi hujan, jadi batu

jadi pulau, jadi pohon, jadi dunia

imaji bagi anakmu yang bertumpuk

bersama sejumlah amsal. tangan yang

nanti seseorang akan memecah

hutan lebatnya.

lansano, oktober 07

Tuesday, November 27, 2007

Saaat kritis



Sebuah Jalan

aku tahu, aku akan tersesat lagi
seperti tahun-tahun aku belum mengenalmu
jalanan tampak sama dan aku
tak terbiasa mengingat banyak nama

di jalan ini aku mengenalmu
di jalan ini pula kau belajar meninggalkan
aku menyadari dari awal
setiap kali kehilangan, setiap kali menemukan
tetapi, aku mendapatkan kesedihan di sini
bahkan untuk diriku sendiri
aku terus bergantung padamu

betapa aku takut sendirian
sebab telah banyak aku kehilangan
di setiap simpang, di setiap belokan
di mana jalan-jalan bercabang
aku selalu gemetar dan ketakutan.
kau dan mereka sama saja
menggoreskan sedikit kenangan
pada tubuhku lalu berebut saling menjauh

di kota yang ramai ini
orang-orang hibuk dengan nasib sendiri
tapi aku tak ingin menangis lagi
mengingat kepedihan yang aku-kau goreskan
pada tubuh masing-masing

di sana, di jalanan lain, aku tahu
orang-orang menyambutmu dengan riang
kalau pun aku sampai menyusulmu
–meski aku tahu, di kota ini, di tengah keramaian ini
selalu ada tempat bertanya
aku sudah tak mendapatkan apa-apa
mungkin kata-kata sakit yang bisa kita ingat
sebentuk kekejamanku padamu

aku tahu, aku tersesat lagi
seperti tahun-tahun aku belum mengenalmu
di kota ini, di tempat baru, aku tak
mengenal apa pun dan tak berkehendak
mengenal apa pun. aku tahu, waktu
ini akan tiba, akan segera tiba.
dan aku sudah lama menyiapkan
kemungkinannya. tapi selalu saja, tak
ada yang siap ketika kita sampai di persimpangan

aku takut tersesat, dan tak akan
menemukan jalanmu. jalan ramai
di mana aku merasa begitu kecil dan sendirian

november 07

Thursday, November 8, 2007

sajak Buat Mutia Sukma 2


Dongeng Sederhana sepasang pecinta
:ma

apalagi yang kau minta dari hidup ini, kekasih? semua serba rahasia, tinggal bagaimana kau mempercayainya. di musim hujan di mana jalanan basah, dan ingatan menampung seluruh masalalu. kesepian akan membalutmu

setiap petang. segala kerisauan itu, serahkanlah padaku. kita akan terus menapaki hidup yang melulu itu, pertengkaran sengit lalu berakhir dengan sedu. rambutmu yang meriapkan lumpur membuat aku takut kehilangan. di keningmu, tempat tanah basah itu aku menyimpan sejuta

rahasia yang kelak akan ditumbuhi tangkai-tangkai sajak. kupetik satu untukmu, penadah hujan yang sengit ini. tetaplah di sini, rekatkanlah tanganmu pada pinggangku agar rasa takut bisa berpindah. ketika dingin, abadikan tubuhmu pada pelukku. dan cinta tak menuntut apa-apa selain banyak kehilangan dan jejak hitam. di penghujung

petang, setiap musim apa pun kita selalu diburu cemas. kita masih saja melangkah, melawan dingin dan rasa haru. tak ada tempat berteduh. apa sesungguhnya rumah jika kita tak dapat menampung segala gaduh. ruang tidur tak cukup mampu memagut risau dan kecemasan. sedang kita, hanyalah dua orang manusia yang belum cukup dewasa yang memahami dunia satu-dua warna saja. dan

tanah yang kita duga tempat ari-ari leluhur pernah ditanam hanyalah praduga kosong saja. kau dilamun kerinduan pada leluhur, pada kesiur angin pantai, bibir maut yang cukup biadab. kau rindukan gunung tempat lumpur hitam bersarang. serupa matamu, negeri ini, tanah yang kita pijak, adalah tempat kematian dirayakan dengan berbagai ragam, atas hidup yang kita pahami begitu sederhana. hentikan tangismu kekasih, agar alam tak terus murung. negeri

leluhur tak lebih indah dari ini. yang berbeda hanya warna nasib saja. dan kita terlalu muda untuk memahami banyak hal. mengingat leluhur hanya menambah dendam saja. kadang aku mengutuk, untuk apa kampung halaman jika mayat pun tak bisa berpulang. sebab kematian mengangkang di mana pun kau berdiri. Di tiap simpang dan tikung jalan. bukankah berkali kuingatkan, tak ada lagi yang bisa kau percaya selain cinta yang kupunya. jika tak ada tempat berpulang aku ingin di sini saja. kauwakafkan

tubuhmu untuk kugarap kapan saja. tapi di sini tempat segala kerisauan bersarang apa yang bisa kutanam selain gamang dan rasa bimbang. hujan ini begitu deras sayang. dan kita masih berjalan, menduga-duga sebalik gunung sebagai negeri yang paling aman. apa lagi yang kau risaukan sayang jika memang hidup melulu kehilangan. kini, rapatkanlah tubuhmu ke bahuku agar kurasa dengus napasmu. selebihnya tak ada yang bisa kita lakukan selain percaya pada langit: kapan hujan akan selesai, kapan awan akan meregang. dan aku hanya bisa menghiburmu dengan

kebingungan yang tak bisa kusembunyikan. sebab dongeng-dongeng telah lama usai. dan kita tetaplah sepasang pecinta yang terlalu percaya pada kelembutan

dan rasa rindu. dunia yang semula begitu nyaman oleh haru dan kedamaian semata menipu untuk kita yang tak mengerti apa-apa. cup, apalagi yang kau risaukan selain cinta ini? sebab hujan bisa saja membinasakannya. cup!

rumahlebah, 2007

sajak-sajak Untuk Mutia Sukma 1

Hujan yang Tersesat

aku menggenggam tanganmu lagi
sebentuk usaha terakhir mempertahankan
diri dari kesakitan yang panjang. sebab hujan
akan turun dari tubuh kita, mula-mula.

mestinya hujan tak turun di sini
di musim kemarau yang terlambat pulang.
tapi dunia bukan hanya milik
kita yang hanya bisa berkata-kata.

juni, bantalku basah, sapardi.
aku terapung di ranjang yang menjelma
kolam renang. langit mendung, barusan
hujan istirah, barangkali ia capek
melarikan diri dari kerja main-main ini.

aku menggenggam tanganmu lagi,
serupa masa kanak yang tidak
memerlukan lambang dan tanda-tanda.
dunia hanyalah kepingan-kepingan lukakata
yang merapatkan diri sukarela.
malam serupa permainan kecil
memaksa kita masuk ke ranjang, ke bibir
rahim. usia melaju begitu jauh. tak ada
stasiun di sini. segalanya
melewati rel panjang menuju langit yang barangkali
segera runtuh. seperti tubuhku yang tenggelam
kian dalam. terbenam ke dasar hatimu.

“sukma, tubuh ini milikmu,” teriak seorang penyair
yang membenci hujan. tapi malam yang main-main
ini, hujan yang tersesat ini pecah di kepalanya
serupa dia, aku pun tak ada jika sukma
sudah tak ada.

aku menggenggam tanganmu, lagi
dan ingin lagi. aku perlu berjemur di halaman
sempit itu, di mana rumput-rumputnya
yang kembali hijau menantangku
untuk berlabuh. tapi sapardi telah
merontokkan segala rencana
bagi seorang pembenci hujan semacam aku
yang selalu basah tiba-tiba.

yogya, juni 2007

Thursday, July 26, 2007

sajak sajak sederhana

Sajak Kepada Semua Orang

Kepada kalian yang sempat mengenaliku

Padamulah sajak ini kutuliskan

Agar tunai utang janjiku

Kepada kalian yang sempat kusakiti

Kutasbihkan tubuh ini untuk seluruh kebencian

Agar kelak tak ada yang mengenang kebaikan

Yang belum pernah kuperbuat

Kepada kalian yang sempat membenciku

Kupercayakan takdirku atasmu

Agar kelak aku tak melulu hitam-putih

Kesadaranku masih penuh

Kadang, untuk sebuah kejahatan tak ada

Yang pernah meniatkan. Dan kejahatan tercipta

Ketika kau merasa menjadi korban.

Kepada kalian yang sempat merasa dendam

Kuyakini dengan segala kesungguhan

Kaulah malaikat itu yang menentukan arah hidupku

Kepada kalian, kurasa tak perlu maaf

Dengan demikian impaslah kita

Dan kalian tak perlu membayar atas pelajaran

Sederhana ini; tak akan ada yang mengulang

Kejahatan yang sempat kuciptakan.

2007

Sajak kecil

Cinta yang Sederhana

ketika bumi ini terlelap dalam kesunyian abadi

aku masih terjaga menungguimu.

ketika malam merangkak di pucuknya,

aku masih berkata-kata tentang cinta.

bila hidup mengembalikan apa saja ke asal mula

aku masih saja merapal ingatan kepadamu.

bahkan, malam pun serupa lantunan doa,

sebab cinta tak mengenal batas siang atau malam,

tidur atau jaga.

maka, sempurnakanlah pejammu

sebab pada mimpi buruk sekali pun

akan kau temukan tanganku terulur kepadamu.

cinta adalah yang bisa merapikan segalanya

dari dosa dan rahasia.

ketika malam mengembalikanmu pada

kesucian paling purba

segala asal mula sedang digarap untukmu.

ketika terbangun dan kau menjumpaiku

dengan seonggok kisah basi

maka itulah cinta. sepenggal kisah sederhana

sepanjang malam dan pagi harimu.

rumahlebah, 2007