Wednesday, May 30, 2007

Sebuah Ingatan yang (Mulai) Sumbing
silaukah matamu oleh cahaya itu? atau matamu perih? Ataukah ada rahasia yang tersimpan di dalamnya dan ingin segera kau miliki?

aku mencintaimu dengan seluruh kata yang lahir dari mulutku. seluruh kata yang tak akan pernah kau pahami kebenarannya.ia adalah isyarat, di mana kita hanya bisa menandainya.

kenangan, kau tahu? Ia menumpuk dan tak akan bisa kau buanhg begitu saja. selalu ada yang tersisa dan kembali bisa digandakan.

penggalan kecil

Mei, Ulang Tahun dan Sebuah Luka


Kamu tahu artinya berdusta? Tahu sakitnya dibohongi?
Lalu tahukah kau seperti apakah itu cinta? “Kita tak pernah tahu bentuknya. Ia tak melulu putih, kadang abu-abu, gelap dan hitam.” Katamu meniru sajak Dorothea. Aku tak tahu soal itu.
Mei, kau tahu, ini musim berkabut sayang, dan kita hanya punya rumah dari kertas yang kita lukis dengan dada berdebar. Di dalamnya kita tanam impian sederhana dan perihal kecil lainnya. Sebuah senja, kau paham, adalah ambang di mana hidup dan mati dimulai, akhir dan permulaan sedang kita garap.
Pancaraoba, kau tahu. Mei melulu pergantian musim dan rasa sakit. Tidak, kau justru merayakan sebuah perayaan besar, saat di mana kau menglang kelahiranmu dan merasakan sebuah telepon yang tiba-tiba. Begitu saja, aku terlempar. Kabar-telpon dan ucapan selamat dariku yang miskin dan tak romantis ini lenyap dimakan angin oleh eforia sederhana.
Kau mulai mencuri kata-kata romantis dari sajakku dan menyusunnya pada sebuah partitur. Sebuah lagu kalian mainkan begitu riang dan penuh getar. Ada bahagia, sesak, takut dan rahasia. Apa yang tak lebih nikmat dengan sesuatu yang sembunyi-sembunyi? Dan kita terbiasa dengan sesuatu yang dilarang, sesuatu yang ditabukan. Semakin sulit, semakin dasyat sensasinya.
Ada yang luka memang. Ada yang perih. Ada yang nyeri.
Kau dan aku. Kita.
Apa sebenarnya cinta? Lalu serupa apakah warna luka? Merah? Itu darah.
Kau menyembunyikan sebuah lagu yang diam-diam begitu rahasia dan mendebarkan bagimu. Dan cinta kita. Duhai, bagaimana rupanya bermain sandiwara dalam sebuah cerita cinta yang rumit?
Selesai?
Aku membencimu dengan seluruh cinta yang kumiliki. Siapa yantg pecundang sebenarnya? Mengapa selalu, kita berahasia untuk sebuah sensasi dan debar dada.
Kau tahu, aku membencimu dengan terus mencintaimu. Itulah dendamku. Untuk seluruh salah akan kubalaskan dendam dengan mencintaimu dengan seluruh.
Peliuk aku, peluk aku dan kita selesaikan segalanya.
Kita tak butuh pemenang. Kita hanya butuh hidup sederhana dengan pertengkaran kecil tentang pulsa, sisa uang dan jadwal apel. Setelahnya, biarkan kepalamu di bahuku. Aih, masihkah ia bisa menampung seluruh duka seluruh luka? Dadaku, dadaku yang tipis ini masihkah kuat menampung kesedihan yang aku-kamu lakukan? Menangislah untuk masa lalu dan berbuatlah untuk masa ini.
Jangan berjanji atawa sumpah. Karena cinta untuk dijalani dan dinikmati.
Dan peluk aku sekali lagi.

Wednesday, May 16, 2007

Met Ultah, Sayang


Met Ultah, Sukmaku, sayang.

12 Mei, 19 tahun lalu kau dilahirkan. Waktu itu aku belum mengenalmu kau juga belum mengenalku, dek. Setengah bercanda, menghibur diriyang terkadang galau kita saling berkata, “Sebenarnya kita sudah mengenal dari dulu, bahkan sebelum kita sempat diiptakan.” Dan sekuat tenanga kita mencoba mempercayainya. Tentu dengan gundah yang nyaris sama.

Kadang aku berharap demikian. Sebagai mana kau juga menginginkannya, dek.

Barangkali kalian akan menganggap ini semacam igauan sepasang pecinta yang malang dan mabuk oleh haru biru. Tapi kukatakan, setiap pejalan pada waktunya, ingin menghabiskan waktunya di sebuah tempat yang dirasa paling aman. Dan aku, menemukan itu pada kau, Mutia Sukma.

Impian setiap pecinta adalah keinginan bahwa, “kau adalah yang terakhir.” Dan kita, apa bedanya? Terasa kekanankan bukan? Tapi cinta, di mana pun, kapan pun, pada siapa pun, ia –cinta itu– tak pernah dewasa.

Lima tahun jarak usia kita. Dengan itu kadang aku merasa sebagai seorang kakak, sesekali dengan segala rumusan rahasia aku menjelma seorang kawan dan lebih banyak menyimpan kecerwetan dan keingnan-keinginan sederhana padamu. Sebagaimana juga kau, kadang kita merasa marah dan mau muntah, tapi cinta tidak akan selesai begitu saja.

Suatu waktu kita ditemukan, kau naik ke panggung, membacakan sebuah puisi Ken Hawa dan kau persembahkan buat Oom Saut. Kau tahu waktu itu, bagaimana cueknya aku. Aku terlalu tidak tertarik dengan orang-orang baru. Bagiku, mereka, hanya menulis peristiwa singkat dan membiarkan aku kering untuk lanjutan yang tak akan pernah ada. Dan kau, seorang asing, stranger. Apa bedanya di antara sekian banyak orang yang tak kukenal di acara Mimbar penyair Muda Yogya ini. Ah, waktu itu menunjuk sekira Agustus 2006.

Setelahnya seseorang menggigaukan dirimu dengan keras. Dan aku merasa mengenalmu melebihi siapa pun. sebagaimana kita yakin, kisah ini sudah bermula semenjak ribuan tahun yang lalu. Kita hanyalah inkarnasi.

Kau sering berkunjung. Dan aku menjadi begitu istimewa. Kau datang dengan cara yang asing, membangunkanku diam-diam, dan mempercayakan segalanya kepadaku. Kau tidak ragu atas apa pun, dan seluruhnya nyaris mempercayaiku. Dan kita menjadi begitu akrab. Begitu akrab.
Kita selalu bersama setelahnya. Sepanjang waktu, hingga detik ini pun.

Ramadhan, kemiskinan mengungkungku. Nyaris seluruh waktuku ku gantungkan pada banyak orang. Jusuf AN, dan kawan-kawan. Kadang aku harus puasa 24 jam dan batas di setiap 12 jamnya adalah segelas air putih dan segenggam kesedihan. Juga kerinduan pada kampung halaman.

Kau rajin menziarahiku. Membawa sebungkus nasi, mengajakku makan dan seperti biasa, membangunkanku dengan cara yang unik dan begitu halus. Sejak itu, sebenarnya kita sudah pacaran. Sudah menjadi sepasang kekasih. Bukankah cinta tak harus terucapkan?

Sebuah waktu yang tak mungkin kita lupa (tentang persisnya biarlah kita saja yang mengngatnya) adalah saat di mana kau mengunjungiku saat aku merasa tidak punya siapa-siapa. Dan aku merasa kita sudah tidak bisa dipisahkan. Tak bisa dipisahkan. Dan kau katakan:


palung mengajarkan kita
tentang kelemahan menjadi kekuatan abadi
yang membantu naik ke daratan lagi
sekedar kembali mencangkulcangkuli tanah
yang tak pernah menjadi milik kita
namun, demi sepetak ladang stowbery
tumbuh di hatimu
maka dengan keikhlasan paling sempurna
kuwakafkan diriku sebagai tanah yang paling
gembur untuk kaugarap kapan saja
di mana tetes keringatmu
sebagai tasbih yang paling mulia
dan di tanah kita kelak
kan kutulis surat cinta sederhana
semacam penghapusan masa silam
yang akan segera diriwayatkan
dijilid dalam sebuah buku
lalu disimpan di kardus bekas mie instant
(bantuan gempa setengah tahun silam).

20 desember 2006
(Surat Kepada K)

aku gamang sayang. Bisakah kita berjalan dengan segala peristiwa yang kita alami sebelumnya, dengan segala kerumitannya. Aku mencatatnya begini:

dan kau, sepasang matamu yang bening dan kanakkanak
tak cukup menyelamatkanku dalam harubiru
“setiap soal, setiap beban adalah perihal yang
membesarkan.” aku tak cukup kuat menafsir ulang
banyak kisah; lebaran ini, kerinduanku dibalut gunda dan luka.
kau menafsirnafsir lukaku dan aku sedikit
berpurapura menceritakan kerinduan yang dangkal; wajah ibu,
aroma kampung, lemangtapai, ketupat dan irama takbir
tapi, rahasia itu tetaplah terus terjaga
yang barangkali kelak akan kau tau juga, saat di mana
aku tak bisa merangkulmu lagi
- jika kau benarbenar pergi.
“jangan pergi dulu,” kataku di malam itu. “ikutlah bersamaku
kita akan rayakan keriuhan di jalanjalan, di alunalun sampai
kita muak dan muntah dengan sedikit sesal yang tertunda”
ramadhan telah usai, adakah besok, waktu yang lain
akan mempertemukan kita serupa peristiwa ini?
sebab kelak, mungkin kita tidak akan menghabiskan waktu
di jalan ini lagi. barangkali aku akan berada di tempat tersunyi
dan kau sedang menyandarkan kepala di bahu entah siapa
"itu kau," katamu dengan mata yang serupa malam
tapi tidak, kita tak beranjak
kita samasama berdusta, ”tinggallah di rumah,” katamu,
“kita akan makan ketupat dan dari dalam akan kita dengan irama takbir.”
kali ini aku menjadi manusia yang sedikit patuh, setidaknya
untuk sepiring ketupat. dan kita bercerita sesuatu yang cengeng;
tentang rumah masa depan, kata seorang kawan.
jika kata adalah doa sunggukah ia akan ada?
oh, celaka! banyak hal yang begitu rahasia. dan kami
yang tak pernah kuceritakan padamu adalah peristiwa konyol
yang entah akan selesai di mana –katakanlah, bagaimana aku bisa
meninggalkanmu jika bau rambutmu terus mengejarku.
malam itu – setelah pesta kecil itu – kau menghibur
kecengenganku dan aku berdusta padamu tentang
semua kerinduan itu. “aku ditinggalkan banyak waktu,
ditinggalkan banyak kisah.” kataku.
“setiap orang tengah mencipta peristiwa lain
atau menyambung kisah yang lama.”
“dan aku ingin punya persoalan denganmu saja.”
kataku dan kau tertawa
inilah rahasianya: setiap orang, setiap kita punya peristiwa dengan
banyak orang. ini rumit dan ini jauh lebih rumit. dan kami, suatu waktu
-ah, betapa aku menjadi tolol– menjalin peristiwa kecil
yang menyesakkan.
dengarlah, aku tulis puisi ini untukmu
sebagai isyarat keberangkatanku. sebagaimana kau tak datang
di hari pertama lebaran ini. “menziarahi waktu. mengunjungi setiap orang yang
mencatat peristiwa denganku.”katamu.
“dan aku, tidakkah juga perlu sebuah ziarah?’
“ah, kau kan kisah yang lain, koto!” –atau tidak terlalu penting?
“enak aja! untukmu akan ada peristiwa lain yang sedikit berbeda.”
-ah, bukankah selalu berbeda. Serupa apa?
dan aku sakit. lalu rumah redup dari bayangku
masa kanak lindap oleh peristiwa kecil dan tuhan tengah mengucapkan
selamat lebaran padaku. tidakkah kau tahu?
ah, kau tak akan pernah tahu,
- atau adakah tengah menjelma kekasih wahai perempuan
yang kukenal lewat sebait puisi.
dan tuhan kembali mengirimkan kartu pos dan bingkisan;
dosa dan dirimu.
Di antara itu semua akan adakah kita?
poetika, 2006
(Sebuah Lebaran Untuk seorang perempuan)


kau tahu, ketika itu aku tak begitu yakin dnegan hasratku. Tapi kita berkjehendak lain. Dan sebuah kesepakatan, tanpa janji-janji cengeng, tanpa sumpoah-sumpah palsu, tanpa kata berbunga, kita sepakat bersama-sama menjalani hari-hari ke depan. “Kesendirian terlalu menakutkan, sayang.”

Dan waktu berlari. Kita melaju dengan cepat hingga hari ini. Tahun bergulir dengan buru-buru dan kini, Mei mengetuk pintu. Kau tahu dek, tak akan ada boneka anjing, tak ada tart kecil dengan sebongkah lilin yang bertuliskan angka 19 yang akan kau tiup dengan riang. Karena hidup begitu keras, sayang. kita sedang bergegas ke satu arah, satu titik di mana “impian masa depan” kita sedang menunggu: sebuah rumah kecil dan sederhana di pinggiran sungai, di sampingnya sawah menghampar. Aku ingin menulis sampai tua, kau ingin menjadi seorang dosen yang mengajar ini –itu. kita kedatangan banyak tamu. Setiap hari kawan-kawan kita datang berkunjung, numpang tidur dan makan, bercerita tentang kota, polusi dan asapnya, tulisan di koran-koran, keluhan pada hidup. Dan kita merasa beruntung, setidaknya mau jadi pendengar yang baik. Lalu kita mengurungnya di perpustakaan pribadi kita. Menyediakan segala sesuatu buat dia. Dan aku masih bisa membaca koran setiap pagi dan di minggu siang kita sibuk berdiskusi tentang isi koran. Dan anak-anak kita lahir dan berebut tumbuh.

Kau tahu, dulu aku tak pernah punya pikiran senikmat ini. Aku membenci semuanya. Benci. Tapi, kini kita mesti belajar mmpercayai ingatan dan menyusun harapan. “memandangs esuatu dengan positif.” Katamu. Dan kita tuerus berjalan di atas bumi yang semakin asing ini. Semakin rumit ini. Tak terpetakan, sayangku. Sungguh.

Kau terus mencipta puisi demi puisi. pertemuan-pertemuan yang terkadang kita isi dengan pertengkaran, jalan-jalan dan mempercakapkan hal-hal penting dan tak penting. Datang ke acara-acara sastra sebagaimana biasanya: orang bingung dan tak banyak paham.

Dan aku tak jua bisa menemukan sebuah kado yang pas untukmu. “aih, barangkali di hari ulang tahunmu nanti. Akan kuberi sebongkah hati. Mentah, merah, berdarah. Agar kau paham detaknya.”

Thursday, April 26, 2007

Catatan perjalanan

Kamis, 26 April 2007

Hari ini terasa agak capek. Aku tidur jam tigaan subuh, setelah semalaman menulis ulang tiga makalah pembicara dalam Kongres Cerpen Indonesia II di Negara Bali tahun 2002. rencananya, semua makalah KCI tersebut harus diketik ulang, untuk diterbitkan dalam edisi khusus Jurnbal cerpen Indonesia V di Kalimantan Selatan Oktober mendatang.

Banyak juga, ternyata. Dan harus deadline Mei ini. Untung tulisan untung Selarong sudah selesai. Tapi, eiit.. ini belum selesai, satu puisi untuk Indexpress masih belum kukerjakan. Satu puisi, tapi ternyata membangun suasananya susah sekali. Naskah dongeng dari Flores ini agak sedikit berbeda dnegan naskah yang lain. Ada tokoh hidup dan benda mati yang bisa berbicara dan bersahabat. Ada palu dan jarum yang berkawan rapat dengan belut, udang dan kawan-kawan. Duh.. capee.. dehhh!!!

Aku berharap mei ini semua kerjaku selesai dan aku bisa pulang ke kos, tiduran dan membaca buku. Aku mau mengistirahatkan kepala yang sebuah ini untuk kemudian nanti digunakan lagi menulis. Aku akan memberinya waktu libur, tapi tidak sekarang.

Enyahlah tugas-tugas. Uangku hanya dua ribuan berapa... pulsa abis. Dan aku menelpon sukma. Dia sudah siap-siap untuk menonton final baca puisi memperingati Haul Chairil Anwar di UNY. Duh, Cahiril besok meninggal...

“Mau ikut gak?”

“Gak, mau nulis aja dulu, dek.”

“Ya udah. Ada uang buat makan?”

Aku menggaruk kepala.

“Punya gak?”

“Gak..” Kau merintih.

“Ya udah. Nanti siang aja ya..”

Aku mau tiduran lagi. Dan tertidur beneran. Jam sepuluan aku bangun. Cuci muka dan mengetik lagi. Melanjutkan Makalah Putu Wijaya, Afrizal Malna dan uh.. capek..

Sukma datang bawa makanan. Duh, cantik sekali dia (tidak hanya) hari ini, lo. Pakai rok panjang, tumben nih anak.

Makan. Setelahnya sedikit bertengkar. Hahaha.. masalah rumit itu tak jua terpecahkan.

Hujan turun. Dan kami bersepakat keluar. Jalan-jalan, menghirup aroma Yogya setelah hujan. Bukan ke kota. Kami menuju selatan. Di perempatan kami suit. Aku menang, kita ke Selatan, Bantul.

Perempatan Bantul-Yogya kami suit lagi. Wah, sukma curang dia pura-pura kalah. Ya sudha, kami ke Barat.. barat dan terus ke barat. jauh.. hmm.. cuimlah aroma ini, serupa di tanah sendiri. Tempat yang jauh dari keramaian dan hiruk pikuk.

Kita masuk ke perkampungan. Asal aja. “kalau nyasar nanti cari warnet, klik google map. Biar tahu posisi kita dimana.” Kataku bercanda. Sukma mulai tak peduli, dia sibuk dnegan barisan bebek yang pulang kandang dan persawahan. Dia mulai berteriak “uhh..uh..” sambil mengangkat tangannya, menghirup udara perkampungan yang lembut. Keceriaan terpancar dari kedua pipinya yang memerah, seperti habis di-cas. Berkali-kali dia minta ganti posisi duduk. Ngangkang.

Perjalanan makin asik. Menikung, naik, turun, hutan, rumah, sawah, ladang tebu.. “Padahal di sini eksotik. Kok yang dikenalkan Cuma Keraton saja ya?” gumamku.

Aku berhenti. Sukma sudah tak bisa ditahan, dia ingin duduk mengangkang, kakinya kram menyamping semacam itu. Keinginannya tak bisa ditolak. Dan perjalan diteruskan. Kami semakin jauh dan asal. Tapi yakinlah sobat di sini tak akan nyasar. “kan ada google map.”

“Enak aja.” Kata sukma. “emang ada warnet apa di sini.” Katanya.

Ah, setiap jalan di Yogya selalu bertemu dnegan ujung lainnya. Itulah rahasianya. Dan.. benarkan.. setelah jauh perjalanan, kami tiba-tiba berhadapan dnegan jalan raya. Jalan Bantul yang ramai di petang yang mendung.

“Ke Simbok yuk..” katanya. Simbok adalah orang yang mengasuhnya ketika kecil dulu.

Kami melewati kasongan yang penuh barisan toko cindera mata itu, berbelok ke utara, ke area ladang tebu dan pabrik gula... terus... dan sampai deh di simbok.

Orang tua yang ceria. Di masa tuanya dia selalu ingin bekerja dan penuh semangat. Dasyaaat..

semoga ada puisi yang bisa ditulis dek, ya????

Wednesday, April 25, 2007

Sajak Koto-Sukma

Rambut Perempuan II

Kucium habis rambutmu

Sampai kutemukan bau rumah

yang semakin hitam

semakin kelam

Biarkan kubenamkan kepalaku

lebih dalam lagi di legam rambutmu

Sampai puas aku, sampai usai nyeriku

Yogyakarta, 0ktober 2006
(by: Koto)

Kusepuh Namamu

kusepuh namamu di jejak kaki

malaikat baikku

:indrian koto

agar serupa bumi

kau memberi tempat berpijak lain

segala biru. hijau yang duludulu membosankan

mengalir di sepanjang selokan

mengejar tikus air yang berenangan

agar serupa bulan

merangkum berabad gulita

lalu menaburnya di atas kue coklat

kejutan kecil di hari basah

dan kau suapkan di bibir ini

sesendok cinta yang tak pernah basi

sesendok rasa yang tetap pagi

meski malam merengek ingin berganti

agar serupa langit

kau memberi kekosongan yang

tidak sempurna

karena lewat awan menggemaskan

imajinasi kuno dan manis

ditontonkan ribuan kali

berikan aku tempat berpijak lain

supaya lengkap sudah sepuhku

agar serupa bumi, serupa bulan,

serupa langit

bumi berputar mengelilingi

bulan yang memberi warna

pada langit

o, lengkap sudah sepuhku.

05 maret 2007

duh... puisi, betapa dekatnya kau dengan hati.

sementara hanya ini yang kami ingin. sebab siapa yang bisa menduga gerak waktu dan apa yang terjadi esok pagi??





Catatan Ringan Koto-sukma

aih.. ini subuh aku ingin menulis sesuatu tentang cinta:


.. Duh ada yang Terbakar Nih

25 April 2007. Selasa

yang begitu setia hanyalah cinta dan kematian

Hari ini koto kuliah. Sukma masih setia mengikuti dan menyimak para peserta lomba baca puisi haul Chairil anwar. Ada Faisal di sana juga. Kuliahnya dua. Tapi Koto masuknya Cuma yang kedua, jam 10, Patologi Sosial.

Saat itu presentasi masalah Kenakalan remaja. Diskusi yang asyik dan menyenangkan. Tapi satu kegelisahan adalah, kok ya kemudian pembicaraan kenakalan remaja ini larinya jauh ke individu. Tidak ada defenisi “nakal” juga di situ. Apakah ia sebentuk kejahatan, tindakan kriminal atau semacam apa. Persoalannya kemduian berputar pada persoalan keluarga dan lingkungan. Uhh.. capek dek.

Tapi entah juga. Saya merasa persoalan kenakalan remaja adalah tindakan komunal, sebuah prilaku yang dikerjalkan sekelompok orang untuk memuaskan diri, untuk memperlihatkan bahwa mereka bisa/mampu atau sekedar menunjukan simbol-simbol kekuasaan/ pengakuan diri pada masyarakat umum dnegan kebut-kebutan di jalan, kebut-kebutan di jalan, dan semacamnya. Kalau pun dilakukan seseorang alasannya tetap sama, untuk menunjukan jadi diri atau setidaknya ingin di terima oleh satu kelompok tertentu.

Tapi itu hanya keyakinan saya saja.

Kembali ke UNY. Menunggu pengumuman final. Dan ternyata Sukma gak lolos. “tak apa, pelajaran bisa didapatkan dari sini.”

Dan Sukma tak terlalu cerewet. Hujan. Kami harus pergi juga. Ke Patehan. Ke kantor, tentunya. Duh, sukma pasti laper sekali. Hanya makan mie goreng sebelum berangkat ke BBY latihan baca puisi yang sebentar lagi akan pentas di Sanata Dharma.

“SMS kalo dah sampai ya?”

Hujan masih turun.

Sampai jam delapan malam, sebuah SMS Masuk.

“Jangan marah ya, sayang. Tadi A**n menyusul (menyebut mantan pacarnya), dia nelpon rumah dan tau kalau sukma laitan.”

Aduh. Gak tau juga gimana perasaan ini. Tombol tuts ditekan kuat-kuat sebagai tanda kegalauan. Cemburu? Tidak sebenarnya. Tapi ini adalah soal yang berlarut-larut dan sama-sama tidak kita suka. Sukma selalu diteror oleh masa lalunya. Lelakinya dulu. Berkali-kali ditolak tapi dia tetap ngotot. Sampai suatu malam kami harus berhadapan di kantor polisi. Kami berhadap-hadapan. Setelah itu saya pikir urusannya akan selesai.

Duh... nyatanya tidak. Dia tersu membuntuti. Dan kekesalan ini entah ditujukan pada siapa. Sukam sudah mencoba menyelesaikan baik-baik, tapi dia tetap memaksa. Sementara aku mulai merasa Sukma terlalu baik dan lembut pada setiap orangs ehingga menelantarkan perasaan pacarnya sendiri. Tapi entahlah.. semua berkecamuk.

Coba sukma sms misalnya pas lagi ngobrol sama A**n, kan kecurigaan tidak akan bertambah. Tapi sms jam delapan, meskipun dengans egala penjelasan tetap membikin rasa tak nyaman.

Duh cinta, kenapa setiap orang menjadi begitu cengeng? Dan berprasangka? Mengapa rasa cemburu selalu muncul?

Karena cintakah? Tak tahulah. Aku masih merasa gak nyaman. Bukan marah atau apa, Cuma merasa dilupakan saja. Duh, merasa dilupakan. Kenapa cinta membuat kita betu perasa?

Sukma...sukma.... cinta-cinta

Monday, April 23, 2007

Sajak Sukma-Koto 2

Waktu, kau tahu, ia begitu saja melenyapkan apa pun. melewatinya tanpa ampun. ada kalanya kita menyebutnya kenangan dan segalanya tinggal bayang:


Pengantin Kudus

:bab

kita bertemu

di mana debaran pecah

memberi butiranbutiran air

karena hati yang dikaratkan

oleh hujan di musim yang berlainan

tak pernah kita

sungguhsungguh datang membawa

niat mengerami telur

di sarangnya sendirisendiri

hingga hangatnya

mampu menggariskan skala

pada teras rumah

yang kian ciut

di susut petang yang hibuk berkarnaval

cerita yang telah kita kisahkan ini, bab

pernah tertulis di buku halaman kesekian

dari lembaran cerita yang ini juga

bahkan alur dan rupa

mengikuti ekor induknya

kupikir

janganjangan kisah ini

seperti kemarin juga

kita akan dibiasakan

menerima pinangan paksa malam

yang sunyikudus

yogyakarta, 2007

(By: Mutia Sukma)


Kataku padamu, tetaplah di sini. selalulah di sini.

Kataku lagi:

Cinta yang Sederhana

ketika bumi ini terlelap dalam kesunyian abadi

aku masih terjaga menungguimu.

ketika malam merangkak di pucuknya,

aku masih berkata-kata tentang cinta.

bila hidup mengembalikan apa saja ke asal mula

aku masih saja merapal ingatan kepadamu.

bahkan, malam pun serupa lantunan doa,

sebab cinta tak mengenal batas siang atau malam,

tidur atau jaga.

maka, sempurnakanlah pejammu

sebab pada mimpi buruk sekali pun

akan kau temukan tanganku terulur kepadamu.

cinta adalah yang bisa merapikan segalanya

dari dosa dan rahasia.

ketika malam mengembalikanmu pada

kesucian paling purba

segala asal mula sedang digarap untukmu.

ketika terbangun dan kau menjumpaiku

dengan seonggok kisah basi

maka itulah cinta. sepenggal kisah sederhana

sepanjang malam dan pagi harimu.

rumahlebah, 2007



Bukankah segalanya telah menyatu bagai s ebua permata yang kita tak bisa memisahkan besi dan emasnya lagi. sebagaimana kau katakan dulu:

"AKu mencintaimu..."