Sunday, July 22, 2007

sejarah kecil



sebuah ingatan sederhana



Juni, ketika FKY





duhhh...


Mutia Sukma-Koto

Tuesday, June 19, 2007

momento

ingatan, kadangkala mengingatkan kita akan sebuah hal: perih dan sedih. tetapi, tidak hari ini.


adakah ini semacam kesunyian atau semacam kemerdekaan ketika kau sendirian, sayang?


ketika ini, adalah waktu terasa berhenti


kadangkala, kita hadir di suasana yang lain dengan cinta yang sama. di antara keramaian, pada siapa pun kita bertatap, pada apa pun kita mengenal. kita adalah kita, untuk sebuah waktu yang panjang.


ah, kata, apalah kata, tak cukup bisa menghapus semua jejak. dan jauh di depan, apa pun bisa saja terjadi. tapi, bukankah kita berpeluk, hingga angin pun tak bisa lewat?



ai-ai, kita yang senantiasa bersama bukans emata urusan cinta. tapi sesuatu yang lahir tiba-tiba, saat di mana kau membutuhkanku, saat bila aku butuhmu. dan kita, memang tak melulu untuk ini.

di sana, di depan kita apa-apa selalu ada. segalanya bisa terjadi. kemungkinan-kemungkinan yang tidak pernah kita sadari...


dan, aku merenggas tanpa kita. juga kau, tentu saja...

tentang hati

aih, di sini, akankah selalu ada cinta???
Begitulah sayangku, aku selalu saja diusik sejuta gaduh tentang rasa dan hati. siapa yang bisa meyakini pikirannya esok pagi atau lusa nanti?
Tentu tak ada yang salah jika kelak kita sudahi semuanya. salah satu dari kita pergi dengan sesungguhnya dan satu yang lain meraba perih. tapi apa pun itu, kita harus mencoba menerimanya. sebagaimana kau, juga aku.
Tapi ta, aku ingin kita selalu di sini. di rumah sederhana yang kita cipta dnegan segudang impian dan harapan. sampai kita tua, sampai di mana kita pergi, lenyap dan tak ada lagi.
masihkah sudi kau di sini bersamaku menatap matahari pagi??

Tuesday, June 5, 2007

senja hari


pada waktunya, barangkali semua tinggal kata-kata dan ingatan kecil belaka.

tapi sebelum semua sampai pada titiknya, aku ingin menarik perahu lagi ke tepi dan bersandar di pelabuhan buruk ini.

sampai kapankah, angin nakal benar-benar pergi??

di seberang, sebuah nyanyian sedang dimainkan dan senja sedang merembang.

memiliki, serupa apa lagi??


aih..aih..

katakan, serupa apa lagi kita membangun hidup dan merancang masa depan, agar angin tak lagi menerbangkan rumah kertas kita??

Wednesday, May 30, 2007

Sebuah Ingatan yang (Mulai) Sumbing
silaukah matamu oleh cahaya itu? atau matamu perih? Ataukah ada rahasia yang tersimpan di dalamnya dan ingin segera kau miliki?

aku mencintaimu dengan seluruh kata yang lahir dari mulutku. seluruh kata yang tak akan pernah kau pahami kebenarannya.ia adalah isyarat, di mana kita hanya bisa menandainya.

kenangan, kau tahu? Ia menumpuk dan tak akan bisa kau buanhg begitu saja. selalu ada yang tersisa dan kembali bisa digandakan.

penggalan kecil

Mei, Ulang Tahun dan Sebuah Luka


Kamu tahu artinya berdusta? Tahu sakitnya dibohongi?
Lalu tahukah kau seperti apakah itu cinta? “Kita tak pernah tahu bentuknya. Ia tak melulu putih, kadang abu-abu, gelap dan hitam.” Katamu meniru sajak Dorothea. Aku tak tahu soal itu.
Mei, kau tahu, ini musim berkabut sayang, dan kita hanya punya rumah dari kertas yang kita lukis dengan dada berdebar. Di dalamnya kita tanam impian sederhana dan perihal kecil lainnya. Sebuah senja, kau paham, adalah ambang di mana hidup dan mati dimulai, akhir dan permulaan sedang kita garap.
Pancaraoba, kau tahu. Mei melulu pergantian musim dan rasa sakit. Tidak, kau justru merayakan sebuah perayaan besar, saat di mana kau menglang kelahiranmu dan merasakan sebuah telepon yang tiba-tiba. Begitu saja, aku terlempar. Kabar-telpon dan ucapan selamat dariku yang miskin dan tak romantis ini lenyap dimakan angin oleh eforia sederhana.
Kau mulai mencuri kata-kata romantis dari sajakku dan menyusunnya pada sebuah partitur. Sebuah lagu kalian mainkan begitu riang dan penuh getar. Ada bahagia, sesak, takut dan rahasia. Apa yang tak lebih nikmat dengan sesuatu yang sembunyi-sembunyi? Dan kita terbiasa dengan sesuatu yang dilarang, sesuatu yang ditabukan. Semakin sulit, semakin dasyat sensasinya.
Ada yang luka memang. Ada yang perih. Ada yang nyeri.
Kau dan aku. Kita.
Apa sebenarnya cinta? Lalu serupa apakah warna luka? Merah? Itu darah.
Kau menyembunyikan sebuah lagu yang diam-diam begitu rahasia dan mendebarkan bagimu. Dan cinta kita. Duhai, bagaimana rupanya bermain sandiwara dalam sebuah cerita cinta yang rumit?
Selesai?
Aku membencimu dengan seluruh cinta yang kumiliki. Siapa yantg pecundang sebenarnya? Mengapa selalu, kita berahasia untuk sebuah sensasi dan debar dada.
Kau tahu, aku membencimu dengan terus mencintaimu. Itulah dendamku. Untuk seluruh salah akan kubalaskan dendam dengan mencintaimu dengan seluruh.
Peliuk aku, peluk aku dan kita selesaikan segalanya.
Kita tak butuh pemenang. Kita hanya butuh hidup sederhana dengan pertengkaran kecil tentang pulsa, sisa uang dan jadwal apel. Setelahnya, biarkan kepalamu di bahuku. Aih, masihkah ia bisa menampung seluruh duka seluruh luka? Dadaku, dadaku yang tipis ini masihkah kuat menampung kesedihan yang aku-kamu lakukan? Menangislah untuk masa lalu dan berbuatlah untuk masa ini.
Jangan berjanji atawa sumpah. Karena cinta untuk dijalani dan dinikmati.
Dan peluk aku sekali lagi.