Wednesday, October 29, 2008

HUmor

Orang idiot

Q : Bagaimana membuat orang idiot tertawa pada hari senin?

A : Ceritakanlah sebuah humor pada hari minggu.

Tuesday, October 28, 2008

kalau aku nilis gini ada yang berkunjung gak ya?? cek-cek aja

perkosa, enak, nikmat, jorok, porno, saru, kasar, gila,
adik, tente, ponakan, mama, papa, semua baik-baik saja, baik, sehat.
tetangga, teman, cewek, sma, lugu, gratis, banyak banget deh
gadis, janda, pembantu, tukang kebun, satpam, semua manusia lo.

2935 pengunjung hari ini.

tambah lagi nih:
enak, ooh..!!, aku jatuh. aku gak tahan, pegel nih berdiri terus. basah nik, ujan-ujanan.
liar banget nih imajinasi. masukin.. dong motornya... pelan-pelan dong jalannya...

kakak iparku orangnya baik. sepupuku banyak banget. kisah-kisah incest (inses) masa sih ada?

perawan. dijilat dong es krimnya.

bla.. bla.. bla..

susah banget sih mancing orang biar baca blog ini...

Monday, October 27, 2008

mau diapain ya blog ini?

ini adalah hari sumpah pemuda. saya tidak tahu apakah hubungannya dengan tulisan saya ini. apa yang ingin saya tulis di sini ya? bagaimana aku menuliskannya?

aklu itu penulis pemalas yang tak terlalu paham dengan teknologi dan selalu berhitung dengan kantong jika ke warnet. tetapi saya mempunyai beberapa blog yang tidak jelas ujung pangkalnya. ini misalnya, kayaknya gak ada yang tahu dnegan keberadaan blog ini sama sekali.

nah aku harus bagaimana? apakah aku harus menghapus blog ini saja? atau saya mengisinya dnegan puisi dan catatan yang lain? uh, siapa yang mau baca tulisan-tulisan saya.

atau saya akan menulis seperti diari di sini.

di luar hujan. siang ini hari selasa. aku dari kampus.. bla..bla.. bla.. haruskah aku menulis semacam ini, sementara saya adalah seorang pemalas mencatat sesuatu sifatnya monoton dan harian.

sial gara2 baca blog http://sekelebatsenja.blogspot.com/ yang saya bawa pulang kemarin saya menjadi ingin menuliskan sesuatu sepanjang hari. tapi apa?

atau saya akan menulis cerita singkat di sini?

masalahnya siapa yang akan mengunjungi blog saya ini?

dasar pemuda yang gampang kalah saya. untung saya tidak hidup 80 tahun yang lalu.

tapi kalaus aya hidupdi zaman itu apakah saya akan memikirkan hal ini juga?

Monday, August 25, 2008

Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 09:
Gerobak yang Mengusung Beragam Makna




Judul : Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 09 Ratusan Mata di Mana-mana
Penerbit : Akar Indonesia
Penulis : Martin Aleida
Yanusa Nugroho
Frans Nadjira
Shiho Sawai
Gde Agung Lontar
Harris Effendi Thahar
Mezra E. Pellondou
Hery Sudiono
Fahruddin Nasrullah
Zulkarnain Ishak
Kiswondo
Tebal : 182 hal +xvii
Harga : Rp 38.000

Agustus ini, Jurnal Cerpen Indonesia (JCI) terbitan Yayasan Akar Indonesia kembali terbit. Edisi yang ke sembilan ini berisi delapan cerpen dan tiga esai sastra. Dibuka dnegan cerpen Pohon kunang-konang karya Frans Nadjira seorang penyair, cerpenis dan pelukis. Martin Aleida menulis cerpen Ratusan Mata di Mana-mana yang sekaligus menjadi judul dari JCI kali ini. Martin menulis cerpennya seperti sebuah catatan harian yang mendiskripsikan perihal-perihal sederhana tentang manusia. Martion seperti mendedahkan biografinya dengan narasi yang lembut dan tokoh-tokoh nyata. Sebuah cerita yang menggambarkan ketika ia bekerja di Majalah Tempo.
Mezra E. Pellondou, menulis cerpen Praiyawang yang berseting Indonesia Timur, latar yang menjadi sentral hampir di semua karya-karyanya. Sebuah khasanah yang manis dan mungkin kurang banyak tergaraps elama ini. disusul pula oleh Gde Agung Lontar dengan cerpen Wayang Bangsawan yang mengambil tema Melayu dengan tokoh klasik, Hang Tuah.
Ada Fahrudin Nasrulloh dengan Tiga Kisah dari Giri, sebuah upaya elsploratif untuk memunculkan tokoh-tokoh yang ‘terpinggirkan’. Tentang seorang Sunan Prapen yang tidak diketahi banyak orang. Seorang tokoh yang kembali dihidupkan lewat imajinasi ataukah dia hanya hidup dalam imajinasi si pengarang, saya tak tahu. Dalam khasanah islma Jawa semacam ini Fahrudin memang memiliki referennsi yang lumayan kuat.
Ada Hery Sudiono dnegan Perkabungan Arloji-nya seorang penulis dan pelukis dari Kalimantan Selatan yang menetap di Yogyakarta. Disusul yanusa Nugroho dengan cerpennya yang luamayn pendek tetapi manis dan cukup menegangkan yang berjudul “Kupu Malam, Anjing Kuris dan Udin”, lalu ditutup oleh cerpen Zulkarnain Ishak, Derap Kaki Ribuan Kuda yang mencoba mendongengkan kita dengan fakta-fakta yang dibalus dengan kestuan bahasa yang halus.
Tiga esai berikutnya melengkapi Jurnal cerpen indonesia ini. dimulai dari Haris Efendi Thahar yang menulis tentang Jejak Sejarah PRRI dalam Antologi Cerpen Pergolakan Daerah Soewardi Idris. Disusul oleh Kiswondo Seorang Peneliti di Uiniversitas Sanata Darma dan terlibat di beberapa LSM yang menulis Sastra Bersaksi: Korban Peristiwa 1965 dalam Empat Cerpen Indonesia yang merupakan studi awalnya yang berpatokan pada 12 cerpen. Hanya saja dalam tulisan ini dia hanya mengambil titik pada empat buah cerpen. Selanjutnya ditutup oleh Shiho Sawai dalam sebuah esainya Potensi Teleopoiesisdan Marginalitas Ganda Transnasional dalam Karya Burih Migran Perempuan di Hongkong. Sebuah kajian menarik dari seorang Shiho yang melihat Buruh Migran Perempuan Hongkong (BMP-HK) sebagai sebuah komunitas sastra yang perlu diperhitungkan keberadaannya.
Demikianlah. Sebuah percampuran rasa yang manis dari ketercampuradukan gaya dan tema dalam kesastraan indonesia.
Dalam pengantar redaksinya, Raudal Tanjung Banua menuliskan bahwa edisi merupakan “keberagaman yang konkrit dari teks serta memperlihatkan fenomena di sekitar sosiologi sastra melalui tiga esai yang dimuat.” Dalam pengantarnya, Raudal menggambarkan kegamangan atas pembicaraan sastra yang lebih banyak menyentuh masalah sosial pengarangnya nitimbang perhatian pada estetika yang diusungnya.
Dan Raudal mencoba menawarkan sebuah analogi untuk membaca cerpen Indonesia yang diandaikan dalam gerak sebuah gerobak. Teori semacam apa pula itu? saya rasa anda harus membacanya sendiri dan menikmati bingkisan manis ini di ruang yang cukup pribadi. Setelahnya anda bisa menerima sekaligus menolak. Bukankah begitu hakikat keberangaman?
Untuk pemesanan Jurnal Cerpen Indonesia atau buku-buku terbitan Akar lainnya bisa melalui kontak 08122729237

Tuesday, July 29, 2008

tubuh api

tubuh api

tubuhku adalah api

yang berhadapan denganku

bertarung dengan matahari

diriku menyala-nyala

setiap peristiwa, setiap ingatan

terbakar di kepalaku yang sempit

dadaku telah lama hangus

tulang-tulangku adalah gugusan kayu api

darahku sumber kemarahan

yang terpancar di setiap kata dan tindakan

jika kau menatap mataku

kau akan terbakar oleh amarah

yang tercipta dengan sendirinya

sampai kau tak ada dalam diriku

tubuhku adalah api yang penuh marah;

jari-jari, kuku-kuku, rambut,

leher,cuping telinga, hidung, gigi dan lidah

anak-anak api yang menyambar-nyambar

kau yang bermain-main dengan korek dan minyak

bersiaplah untuk terbakar

tinggalkan aku sendirian

atau kau akan musnah bersama diriku

api ini adalah dendam

yang tersusun sedemikian rupa

betapa tipisnya batas antara rindu dan dendam

betapa dekatnya sayang dengan api

kau akan terbakar

setiap kali menatapku, kini

januari 2008

Wednesday, July 23, 2008

sajak jalan lapar

Jalan Lapar


aku tumbuh dari rasa lapar

serupa jalan, menelan apa saja

dan tak pernah memulangkannya


apakah aku yang semakin tumbuh besar

ataukah jalan ini yang semakin tua

dan kurus, hingga belokan dan tikungan

bukan lagi rahasia tersembunyi?


kelaparan memulangkanku ke pangkal jalan

aku merasakan tubuhku kuyup

kehilangan. begitu banyak yang diambil dariku

dan tak pernah dipulangkan

kenangan, pohon-pohon tinggi

yang menutup beranda serupa belantara

tempat sembunyi para bocah

dari kehilangan dan keberangkatan

2007

pulang kampung

Pulang Kampung

aku tertidur seperti tenggelam
dalam pusara ingatan
segalanya seperti dibangkitkan
cenayang dan jin laut
serupa tenung, menghapus segala kenang

di sini karang sudah lama padam
dan laut serupa silsilah
terus menukik dan menghantam apa saja
ingatanku tumbuh
seperti batang jati
di petak ladang yang hilang jalan

dalam tidur kutemukan
wajah-wajah tak kukenal
dalam kecemasan yang sama
mereka menghitung dunia dari dalam
dompet mereka yang robek
tangan mereka hitam oleh getah gambir
yang sepanjang hari mereka akrabi liat licinnya
keringat mereka seperti hujan di dadaku
lalu tumbuh sebatang jagung dengan
malas dan malu-malu
mereka menatapku dengan asing
dan kesunyian yang dalam
di mata mereka tumbuh lampu-lampu
dan bendera asing, lalu bermunculan
banyak iklan; motor, celana-baju baru dan
lebaran yang lewat dengan sia-sia
handphoneku berdering, mereka
menggigil semakin nyaring, menyanyikan
amsal-amsal kota jauh
tentang selingkuh yang sentimental
serupa ratok, yang didendangkan begitu murung

aku terjaga dari tidurku yang singkat
tapi mereka, yang bermain dalam mimpiku
tak bisa pulang
mereka bergelantungan di pohon nilam, di batang
durian, di cabang rambutan dan seluruh akar tubuhku
dari jauh, mobil-mobil panjang dan besar
menggilas mereka, sampai tak satu pun
bisa mengingatnya. yang lain bergelantungan
lalu menghapus dirinya dari pohon silsilah
aku tak tahu, batas antara tidur dan jaga
diam-diam merasa kalah dan tak hendak
bangun lagi.

lansano, oktober 2007